Pertanyaan itu sederhana, tapi menggetarkan.
Arsa menahan napas, lalu menjawab dengan jujur:
“Ya. Termasuk kau.”
Keheningan memenuhi toko.
Namun itu bukan hening yang canggung.
Itu hening yang matang, hening dua manusia yang telah terlalu lama menahan kata-kata yang tak pernah selesai diucapkan.
********Filsafat di Tengah Senja
Sejak hari itu, Sasmita sering datang ke toko Arsa. Kadang hanya lima belas menit untuk menyeruput teh, kadang satu jam untuk berbagi cerita hidup, kadang hanya duduk diam tanpa bicara.
Suatu hari, ketika hujan turun perlahan seperti rintik yang penuh kesabaran, Sasmita bertanya:
“Mas, apa yang membuatmu tetap terlihat muda? Apa yang menahanmu agar tidak menjadi pahit seperti banyak orang seusiamu?”
Arsa tersenyum samar.
Ia mengambil buku tua dari rak belakang: Suluk Jiwa dan Harapan.
“Karena aku belajar satu hal,” katanya.
“Kita menjadi tua bukan karena usia, tapi karena kehilangan rasa ingin tahu.”
Sasmita menaikkan alis. “Maksudmu?”
“Orang yang tidak lagi penasaran dengan dunia, dengan cinta, dengan dirinya sendiri… mereka sebenarnya sudah mati. Mereka hanya belum dikuburkan.”