Masuklah seorang wanita. Rambutnya memutih anggun, kulitnya mulai berkeriput, tapi cara ia berdiri, cara matanya menatap dunia, masih sama dengan tiga puluh tahun lalu.
Sasmita.
Wanita yang pernah ia cintai.
Wanita yang tak pernah benar-benar hilang dari hidupnya, sekalipun waktu memaksa mereka berpisah.
Arsa terpaku selama beberapa detik.
Dadanya terasa seperti ditampar kenangan.
Sasmita tersenyum lembut. Senyum yang dulu membuat Arsa berani bermimpi lebih jauh dari batas dirinya.
“Mas Arsa…” suaranya seperti angin sore. “Masih buka toko ini?”
Arsa balas tersenyum. “Untukmu, aku selalu punya waktu.”
Sasmita tertawa kecil, tawa yang membuat segala krisis, segala kehilangan, segala pahit hidup… terasa sedikit lebih ringan.
Ia berjalan menyusuri toko, menyentuh lemari kayu tua, jam dinding kuno, lampu petromaks yang tak lagi menyala. Setiap sentuhan adalah nostalgia yang bangkit dari tidur panjang.
“Masih kau simpan semuanya,” katanya.
“Aku tidak pandai melepaskan,” jawab Arsa pelan.
“Aku menyimpan yang pernah membuatku hidup.”
Sasmita menatapnya lama.
“Termasuk aku?”