“Aku takut masa depan bersamamu tidak aman. Tapi sekarang aku mengerti… tidak ada yang aman di dunia ini. Yang ada hanya siapa yang bersedia berjalan bersama.”
Arsa mendekatinya. Ia memegang tangan Sasmita, perlahan, hati-hati, seolah memegang sesuatu yang mudah retak.
“Sasmita,” katanya, “bolehkah aku mencintaimu lagi… kali ini tanpa terburu-buru, tanpa berharap kita kembali ke masa lalu?”
Sasmita mengangguk dengan mata yang berkaca.
“Kau boleh mencintaiku…
dan aku ingin mencintaimu juga.”
Mereka berpelukan.
Pelukan yang tidak penuh nafsu, tidak penuh ambisi, tidak seperti roman remaja yang belum matang.
Ini adalah pelukan dua jiwa yang sama-sama lelah, ditemukan oleh cinta yang tertunda tapi tidak mati.
***********Menjadi Muda Untuk Kedua Kalinya
Sejak malam itu, hidup Arsa berubah.
Bukan menjadi spektakuler.
Tidak ada hal-hal ajaib.
Tidak juga drama besar.
Tapi setiap hari ia bangun dengan hati yang hangat.
Ia merasa menemukan kembali dirinya yang hilang.