“Indikator itu tidak bisa diukur.”
Pak Ujang mengangguk setuju.
“Dan tidak ada matriks kegiatan.”
Kelompok itu dinyatakan “perlu revisi besar”.
Mereka keluar ruangan dengan perasaan aneh: terlalu manusiawi untuk kampus, terlalu kampus untuk manusia.
Akhirnya, setelah semua kelompok diuji, dinilai, direvisi, dan diberi catatan penting, rapat ditutup.
Pak Darman berdiri.
“Baik. Semoga KKN ini sukses dan membawa nama baik institusi.”
Bu Rini menambahkan pelan, hampir seperti doa pribadi.
“Dan membawa manfaat bagi desa.”
Pak Ujang memastikan satu hal terakhir.
“Jangan lupa, sebelum berangkat, semua harus kumpul fotokopi KTP, KTM, BPJS, surat sehat, dan surat pernyataan tidak menikah selama KKN.”
Mahasiswa saling pandang.
“Pak… itu kenapa?”
Pak Ujang tersenyum misterius.
“Pengalaman.”
*********