Kelompok “sederhana” justru paling sibuk: ikut melaut, membantu menjemur ikan, mendengar cerita warga tanpa mencatat apa pun.
“Kenapa tidak dicatat?” tanya mahasiswa lain.
“Kami takut cerita ini mengecil kalau masuk laporan,” jawab mereka.
***********Suatu malam, hujan deras turun. Ombak besar. Listrik padam.
Mahasiswa berkumpul di posko, gelap, hanya ditemani lampu minyak.
Di luar, warga tetap tenang.
“Kalian takut?” tanya seorang ibu sambil membuat kopi.
“Sedikit, Bu.”
Ibu itu tertawa.
“Kalau laut sedang bicara keras, kita dengarkan saja.”
Di saat itu, semua teori komunikasi lintas budaya, partisipasi, dan pemberdayaan terasa menemukan tubuhnya.
***********Minggu terakhir KKN, dosen pembimbing datang berkunjung. Pak Darman ikut.
Ia melihat mahasiswa yang dulu gugup kini cekatan membantu warga.
“Bagaimana KKN-nya?” tanya Pak Darman.
Ketua kelompok menjawab jujur.
“Kami banyak belajar, Pak. Dan banyak salah.”