Social Battery Menipis? Tips Survival Mahasiswa Introvert Hadapi Aktivitas Kampus
Social battery di lingkungan mahasiswa -Pinterest/Freepik-
INFORADAR.ID - Istilah social battery belakangan semakin akrab di kalangan mahasiswa, khususnya bagi mereka yang berkepribadian introvert. Padatnya aktivitas perkuliahan, organisasi, hingga tuntutan sosial kerap membuat energi sosial cepat terkuras.
Kondisi ini pun dirasakan oleh sejumlah mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang membagikan pengalaman dan cara bertahan mereka menghadapi kelelahan sosial di lingkungan kampus.
Frida Dini Chaerunisa, Mahasiswi Tadris Bahasa Inggris UIN Banten, mengungkapkan bahwa kelelahan sosial paling sering ia rasakan ketika berada di tengah banyak orang yang tidak sefrekuensi dengannya. Menurutnya, berada di lingkungan yang dipenuhi gosip dan energi negatif membuatnya sulit menjadi diri sendiri.
“Kalau aku pribadi, ketika terlalu lama berkumpul dengan banyak orang, apalagi duduk bareng yang nggak sefrekuensi, itu capek banget. Aku jadi nggak bisa jadi diri sendiri, apalagi kalau lingkungannya penuh gosip,” ujar Frida.
Ia menambahkan, ketika social battery-nya benar-benar habis, ia memilih untuk diam dan mengurangi interaksi. Namun, diam yang ia lakukan bukan berarti mengabaikan orang lain.
“Biasanya kalau udah mentok banget aku diam aja, tapi bukan berarti ignoring. Aku tetap dengerin, atau alternatifnya aku jajan aja, pokoknya mulut harus ada yang dikunyah,” katanya.
BACA JUGA:5 Cara Pilih Power Bank untuk Gadget: Perhatikan Kapasitas, Sertifikasi, dan Fitur Proteksi
BACA JUGA:Tips Menjaga Kesehatan Lambung Penting untuk Mendukung Aktivitas Sehari-hari kamu
Frida juga mengakui bahwa dirinya cenderung people pleaser dan sulit menolak ajakan orang lain. Namun seiring waktu, ia mulai belajar menetapkan batasan demi kesehatan mentalnya.
“Dulu susah banget bilang ‘nggak’, tapi sekarang aku mulai sadar harus set boundaries. Nggak harus selalu fit in, apalagi di tempat yang kita nggak dihargai. Sekarang aku lebih berani bilang enggak,” ungkapnya.
Menurut Frida, menjaga batasan diri dan berhenti menjadi people pleaser adalah kunci utama agar energi sosial tidak cepat terkuras.
Sementara itu, pengalaman serupa juga dirasakan oleh Ade Alifa, mahasiswa yang aktif menjalani perkuliahan dan kegiatan organisasi. Ia menilai jadwal kuliah yang padat menjadi salah satu penyebab utama menurunnya social battery.
“Menurut aku yang paling nguras sosial battery itu kalau ada mata kuliah full dari siang sampai sore, ditambah lagi masih harus rapat organisasi,” ujar Ade.
Saat energinya habis, Ade memilih untuk mengurangi interaksi dan lebih banyak diam. Namun, ia mengakui ada konsekuensi dari sikap tersebut. “Kalau udah habis biasanya diem, nggak ngobrol ke kanan kiri. Minusnya kadang apa yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri, jadi nggak nangkep omongan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
