Desa Karangsepi yang Tidak Sepi
Perjalanan ke Desa Karangsepi memakan waktu hampir delapan jam. Jalan berliku, sinyal hilang-timbul, dan satu jembatan kayu yang membuat bus kampus berhenti selama lima belas menit untuk “musyawarah sopir”.
Saat tiba, yang pertama menyambut mereka bukan kepala desa, melainkan bau laut, angin keras, dan anak-anak yang tertawa tanpa peduli IPK.
“Kampus jauh, ya?” tanya seorang nelayan sambil memperbaiki jaring.
“Lumayan, Pak,” jawab mahasiswa.
Nelayan itu tersenyum.
“Kalau jauh, berarti niatnya besar.”
Kalimat sederhana itu membuat beberapa mahasiswa terdiam. Di kampus, niat selalu diukur dari proposal.
Balai Desa Karangsepi menjadi posko KKN. Bangunannya sederhana, catnya mengelupas, tapi dindingnya penuh foto kegiatan warga: gotong royong, laut pasang, panen ikan.
Kepala Desa, Pak Lurah Sarka, menyambut mereka tanpa podium.
“Kami senang kalian datang,” katanya.
“Tapi jangan repot-repot ingin mengubah kami. Kami sudah cukup berubah oleh laut.”
Mahasiswa kelompok branding ikan asin saling pandang. Slide mereka mendadak terasa terlalu mengkilap.
**********Hari-hari pertama KKN penuh kejadian kecil yang tak pernah ada di modul.
Kelompok mitigasi bencana justru belajar dari nelayan tua yang bisa membaca tanda ombak dari bau angin.
Kelompok digital marketing kebingungan karena sinyal hanya muncul di satu batu besar dekat pantai, yang konon “dipilih” oleh provider secara spiritual.