Sidang Kecil di Ruang Besar Bernama Kampus: Catatan KKN dari Ruang Ujian Hingga Pesisir Karangsepi

Rabu 14-01-2026,13:08 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

“Ya… asal jangan terlalu akademis. Ingat, masyarakat kita itu sederhana.”

Mahasiswi itu menelan ludah. Dalam benaknya, warga Desa Karangsepi yang setiap hari membaca cuaca laut lebih akurat dari aplikasi BMKG tiba-tiba dianggap sederhana.

Pak Ujang kembali membuka map.

“Kelompok ini… map plastiknya warna biru. Seharusnya kuning.”

“Pak, itu berpengaruh ke nilai?” tanya mahasiswa polos.

Pak Ujang tersenyum lagi.

“Secara substansi tidak. Secara prosedur… ya berpengaruh.”

************

Ujian berakhir menjelang sore. Para mahasiswa keluar dengan wajah campur aduk: lega, bingung, dan sedikit trauma birokrasi.

Di ruang rapat, panitia masih berdiskusi.

“Mahasiswa sekarang pintar-pintar,” kata Bu Rini.

“Terlalu pintar kadang,” sahut Pak Darman. “Kurang patuh.”

Pak Ujang menutup mapnya perlahan.

“Yang penting arsip lengkap. Tahun depan kalau diaudit, kita aman.”

Di luar gedung, angin sore berhembus. Jauh di Banten Selatan, ombak terus memukul pantai Desa Karangsepi, tak peduli pada judul program, tanda tangan, atau warna map.

Mungkin, pikir ombak, pengabdian memang selalu diuji dua kali:

di ruang kampus yang dingin,

Kategori :