Pak Ujang menggeser kursi sedikit.
“Proposal ini jilidannya spiral. Aturan fakultas jilid lem panas.”
Mahasiswa tercekat.
“Pak… lem panas di koperasi habis.”
Pak Ujang mencatat sesuatu di kertas kecil.
“Catatan penting.”
Catatan itu tampak lebih berat dari seluruh teori pemberdayaan yang mereka pelajari selama enam semester.
Kelompok keempat tampil beda, mereka tidak membawa slide, hanya membawa satu lembar kertas.
“Kami ingin KKN yang sederhana, Pak,” kata ketuanya.
“Belajar dari nelayan, membantu apa yang bisa, tanpa banyak jargon.”
Ruang rapat mendadak hening.
Bu Rini terlihat tertarik.
“Menarik. Apa indikator keberhasilannya?”
Ketua kelompok berpikir sejenak.
“Jika warga menerima kami sebagai manusia, bukan proyek.”
Pak Darman berdehem.