Disway Award

Bumi Manusia: Ketika Cinta, Pendidikan, dan Perlawanan Bertabrakan dengan Kolonialisme

Bumi Manusia: Ketika Cinta, Pendidikan, dan Perlawanan Bertabrakan dengan Kolonialisme

bumi perdana --

INFORADAR.ID - Diangkat dari novel Pramoedya Ananta Toer, film ini membawa kita ke masa kolonial Hindia Belanda, ketika hukum dan ras menentukan nilai seorang manusia.

Tokoh Minke, seorang pribumi terpelajar, menjadi simbol perlawanan yang sunyi. Ia percaya bahwa pendidikan adalah jalan pembebasan. Namun, pengetahuan saja tidak cukup untuk melawan sistem yang sejak awal tidak pernah menganggapnya setara. Dalam dunia kolonial, kecerdasan Minke tetap kalah oleh warna kulit dan status sosial.

Hubungan Minke dengan Annelies memperlihatkan sisi lain dari penindasan kolonial: bagaimana cinta pun bisa dikendalikan oleh hukum yang tidak manusiawi. Annelies, yang secara biologis berdarah pribumi, secara hukum dianggap milik sistem kolonial.

Ibunya, Nyai Ontosoroh, meski cerdas, mandiri, dan berdaya, tetap tak diakui sebagai manusia utuh hanya karena ia seorang “nyai”.

Kalimat Nyai Ontosoroh terasa seperti tamparan keras:

“Kita sudah melawan, Nak. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Perlawanan dalam Bumi Manusia bukan tentang senjata, melainkan tentang harga diri. Tentang keberanian untuk berpikir, bersuara, dan berdiri tegak di hadapan ketidakadilan, meski tahu kemungkinan menang sangat kecil.

Film ini juga menegaskan bahwa kolonialisme bukan hanya soal penjajahan wilayah, tetapi penjajahan pikiran. Sistem hukum, pendidikan, dan sosial dibangun untuk memastikan satu hal: pribumi tetap di bawah.

Di konteks hari ini, Bumi Manusia masih relevan. Kita mungkin tidak lagi hidup di bawah kolonialisme Belanda, tetapi ketimpangan, diskriminasi, dan ketidakadilan struktural masih hadir dalam bentuk yang berbeda.

Film ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya dirayakan, tetapi harus terus diperjuangkan—dengan kesadaran, keberanian, dan keberpihakan pada kemanusiaan.

Bumi Manusia mengajarkan satu hal penting: bahwa menjadi manusia berarti berani menolak diperlakukan tidak manusiawi.

 

Fikri Habib Hassar Maldya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla’ul Anwar

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: