Sidang Kecil di Ruang Besar Bernama Kampus: Catatan KKN dari Ruang Ujian Hingga Pesisir Karangsepi
Ilustrasi cerpen dengan nuansa perkampungan-Freepik-
Oleh: Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP Untirta
Di Kampus Samudra Raya, yang letaknya jauh dari laut tapi obsesinya pada kata maritim suasana mendadak riuh. Bukan karena wisuda, bukan pula karena dosen tamu dari luar negeri, melainkan karena ujian rencana Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang akan dilaksanakan di sebuah desa pesisir di Banten Selatan: Desa Karangsepi, tempat ombak besar, sinyal kecil, dan janji-janji pengabdian selalu terdengar indah dari kejauhan.
Panitia ujian berkumpul di ruang rapat yang pendinginnya selalu terlalu dingin bagi dosen dan terlalu panas bagi mahasiswa. Di ujung meja, Pak Darman, dosen senior sekaligus ketua panitia, membuka rapat dengan suara berat penuh wibawa.
“Baik, kita mulai. Ini ujian serius. Mahasiswa harus siap mental, konseptual, dan… administratif.”
Kata terakhir itu diucapkan dengan tekanan khusus, seolah administratif adalah cabang ilmu paling sakral di kampus.
Di sebelahnya duduk Bu Rini, dosen muda yang baru pulang studi dari luar negeri, penuh semangat pemberdayaan masyarakat. Di depannya, laptop terbuka menampilkan slide berjudul Participatory Coastal Empowerment Framework.
Sementara itu, di kursi paling dekat pintu, Pak Ujang, pegawai tenaga kependidikan, sibuk dengan map tebal berisi formulir. Map itu tampak lebih berwibawa daripada semua teori di ruangan.
**********
Mahasiswa satu per satu dipanggil. Kelompok pertama maju dengan penuh percaya diri.
“Judul program kami,” kata ketua kelompok, “Optimalisasi Potensi Rumput Laut Berbasis Digital Marketing untuk Kesejahteraan Nelayan.”
Bu Rini tersenyum.
“Bagus. Partisipasi warga bagaimana?”
“Kami akan melakukan FGD,” jawab mahasiswa itu cepat.
“Dengan siapa?” tanya Bu Rini lagi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
