Ketika Kebencian Menggonggong

Ketika Kebencian Menggonggong

Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-

Hasrat Menjatuhkan, Bukan Sekadar Mengkritik

Dalam spirit Black Dog, kita bisa membaca hasrat sebagai sesuatu yang kadang begitu kuat sehingga menguasai perhatian manusia. Dalam politik, hasrat itu dapat menjelma menjadi obsesi: bukan lagi sekadar ingin mengetahui kebenaran, melainkan ingin memastikan bahwa orang yang tidak disukai harus terlihat salah.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi Jokowi atau Gibran semata. Persoalannya adalah manusia yang membiarkan ketidaksukaannya menjadi pusat gravitasi kehidupan.

Setiap berita dicari untuk menguatkan prasangka. Setiap potongan video diperlakukan seperti barang bukti. Setiap kabar yang belum jelas diberi pakaian kesimpulan. Tabayyun? Nanti dulu. Yang penting unggah dahulu, klarifikasi belakangan.

Padahal, dalam tradisi Islam, tabayyun bukan hiasan di dinding ruang pengajian. Ia adalah disiplin moral: memeriksa kabar sebelum mempercayainya, apalagi menyebarkannya. Al-Qur'an mengingatkan hal itu dalam Surah Al-Hujurat ayat 6.

Sayangnya, di zaman media sosial, kecepatan sering dianggap kecerdasan. Orang yang paling cepat menuduh kadang mendapat tepuk tangan lebih dahulu daripada orang yang bersusah payah memeriksa fakta.

Kebenaran berjalan kaki, prasangka naik sepeda motor, sementara fitnah sudah terbang dengan pesawat jet.

Jokowi, Gibran, dan Industri Ketidaksukaan

Nama besar memiliki konsekuensi. Semakin tinggi seseorang berada dalam panggung kekuasaan, semakin besar pula perhatian, kritik, dan kecurigaan yang mengikutinya. Itu bagian dari demokrasi.

Namun, ada pertanyaan sederhana yang patut diajukan kepada mereka yang begitu bersemangat menjatuhkan nama Jokowi dan Gibran: apakah semua yang dilakukan benar-benar demi kepentingan publik, atau jangan-jangan sebagian energi itu habis untuk memelihara ketidaksukaan pribadi?

Kita tidak perlu menutup mata terhadap persoalan yang nyata. Jika ada dugaan pelanggaran, periksa dengan bukti. Jika ada kebijakan yang keliru, kritik dengan argumen. Jika ada persoalan hukum, tempuh mekanisme hukum. Jangan sampai kritik berubah menjadi perburuan tanpa ujung, ketika apa pun hasil pemeriksaan tidak pernah cukup untuk memuaskan pihak yang sejak awal sudah menjatuhkan vonis.

Sebab, orang yang benar-benar mencari kebenaran bersedia menerima fakta, termasuk ketika fakta itu tidak sesuai dengan keinginannya. Sebaliknya, orang yang hanya ingin menjatuhkan lawan akan selalu menemukan alasan untuk tidak pernah merasa puas.

Ia tidak sedang mencari kebenaran. Ia sedang mencari pembenaran.

Dan dua hal itu, meskipun hanya berbeda beberapa huruf, bisa menghasilkan perbedaan watak yang sangat jauh.

Ketika Anjing Hitam Berubah Menjadi Cermin

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: