Ketika Kebencian Menggonggong
Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-
Dalam pembacaan filosofis, Black Dog bisa kita jadikan pintu masuk untuk merenungkan hasrat manusia. Ini bukan klaim bahwa Led Zeppelin menulis lagu tersebut untuk membicarakan politik Indonesia. Lagu itu memiliki konteks dan maknanya sendiri. Kita meminjam spiritnya untuk membaca perilaku manusia di panggung politik.
Di sinilah ironi itu muncul. Orang yang begitu sibuk membongkar kekurangan orang lain kadang lupa memeriksa apa yang sedang tumbuh di dalam dirinya sendiri.
Kita mudah melihat debu di mata orang lain, tetapi kesulitan melihat batu di mata sendiri. Kita menuntut pejabat berlaku bijak, tetapi membiarkan jari kita menulis tuduhan tanpa kebijaksanaan. Kita meminta orang lain bertanggung jawab, tetapi merasa tidak perlu bertanggung jawab atas kabar yang kita sebarkan.
Dalam bahasa sufistik, musuh terbesar manusia tidak selalu berada di luar dirinya. Kadang ia bersembunyi di dalam ego yang menyamar sebagai perjuangan moral.
Maka, sebelum terlalu sibuk menjatuhkan nama besar seseorang, ada baiknya kita bertanya: apakah kita sedang membela kebenaran, atau hanya sedang memuaskan ego?
Pertanyaan itu sederhana. Jawabannya mungkin tidak sederhana.
Jangan Sampai Hidup Kita Hanya Menggonggong
Demokrasi membutuhkan kritik, bukan pemujaan. Tetapi demokrasi juga membutuhkan kewarasan, bukan kebencian yang dipelihara seperti tanaman hias.
Jokowi bukan manusia tanpa kekurangan. Gibran pun bukan pejabat yang harus dibebaskan dari kritik. Keduanya, seperti semua pemegang kekuasaan, harus terbuka terhadap pengawasan publik. Namun, mengkritik berbeda dengan terobsesi menjatuhkan. Mengawasi berbeda dengan memburu. Mencari kebenaran berbeda dengan mencari-cari kesalahan.
Jangan sampai nama Jokowi dan Gibran justru menjadi penghuni tetap kepala orang-orang yang paling ingin melihat mereka jatuh.
Ironis sekali: katanya ingin membuat mereka tidak penting, tetapi setiap hari justru membicarakan mereka. Katanya ingin mengakhiri pengaruh mereka, tetapi perhatian sendiri tidak pernah bisa lepas dari keduanya.
Barangkali inilah irama Black Dog dalam politik: hasrat yang terus berulang, ketukan yang tak kunjung berhenti, dan manusia yang kadang tidak sadar bahwa dirinya sedang menari mengikuti musik kebenciannya sendiri.
Led Zeppelin boleh menghentak panggung dengan gitar dan drum. Politik kita tidak perlu menambah kebisingan dengan gonggongan yang tak berkesudahan.
Sebab, tidak semua yang keras itu berani, tidak semua yang nyaring itu benar, dan tidak semua yang ingin menjatuhkan orang lain sedang berdiri di tempat yang lebih tinggi.
Kadang-kadang, ia hanya sedang sibuk menggonggong di depan cermin.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: