Perempuan yang Menyimpan Malam di Kulitnya

Perempuan yang Menyimpan Malam di Kulitnya

Ilustrasi Cerpen Perempuan yang Menyimpan Malam di Kulitnya-Istock/Pinkomelet-

Orang-orang benar. Setelah mengenal Sekarwangi, hidupku tidak lagi sama. Kata-kata yang kutulis menjadi lebih gelap, lebih jujur. Hubungan lama terasa hambar. Doa-doa terdengar seperti hafalan tanpa makna. Aku menjadi lebih hidup, sekaligus lebih rapuh.

Aku mulai mengerti: erotisme sejati bukan pada persentuhan tubuh, tapi pada jarak yang terus dipertahankan.

Sekarwangi tahu itu. Ia memelihara jarak seperti seorang dukun memelihara mantra, cukup dekat untuk bekerja, cukup jauh untuk tidak memakan diri sendiri.

“Aku bukan perempuan untuk dimiliki,” katanya suatu malam. “Aku adalah pengalaman.”

****************

Kami berpisah tanpa perpisahan. Aku bangun suatu pagi dan ia sudah pergi. Tidak ada catatan, tidak ada alamat. Hanya bau samar di bantal, bau malam, bau hujan yang jatuh di tanah panas.

Berbulan-bulan kemudian, aku masih merasakan telapak tangannya di kulitku. Seperti bekas luka yang tidak sakit, tapi selalu mengingatkan bahwa sesuatu pernah terjadi.

Kini aku tahu:

Sekarwangi bukan sihir hitam.

Ia adalah perempuan yang menolak menjadi terang agar lelaki belajar melihat dalam gelap.

Dan aku, yang pernah disentuh oleh asap di telapak tangannya, akan selamanya berjalan dengan sedikit malam di dalam dada. 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: