Cyberbullying Kian Mengkhawatirkan, Mengapa Perundungan di Dunia Maya Perlu Jadi Perhatian Bersama?
Cyber bulliying -iStock-
INFORADAR.ID - Kemajuan teknologi dan sistem informasi tidak selalu membawa dampak baik pada sendi kehidupan masyarakat. Perundungan siber (cyberbullying) menjadi salah satu dampak buruk kemajuan teknologi dan masifnya informasi.
Kemudahan berinteraksi melalui media sosial, aplikasi percakapan, hingga gim daring memang membuka ruang komunikasi yang luas, tetapi juga meningkatkan risiko penyebaran ujaran kebencian, penghinaan, ancaman, dan pelecehan yang dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental korban.
Menurut UNICEF, cyberbullying adalah tindakan perundungan yang dilakukan melalui perangkat digital seperti ponsel, komputer, dan tablet. Bentuknya dapat berupa penyebaran informasi palsu, unggahan yang mempermalukan seseorang, pesan bernada ancaman, hingga penyamaran identitas untuk menyerang korban secara berulang.
BACA JUGA:Hoaks Kian Masif, Indonesia Perkuat Ketahanan Digital Hadapi Perang Informasi
BACA JUGA:Usut Kasus Satpam Jatiluhur yang Tewas Mengenaskan, Polisi Incar Kelompok Geng Motor
Biasanya tindakan cyber bulliying sering kali terjadi bersamaan dengan perundungan secara langsung dan dapat menimbulkan dampak psikologis yang berkepanjangan bagi korbannya hal ini tentunya mengkhawatirkan melihat dampaknya yang tidak main-main.
Di Indonesia, penggunaan internet oleh anak dan remaja yang terus meningkat membuat risiko tersebut semakin besar. Studi UNICEF Indonesia pada 2023 menemukan bahwa sebagian besar anak menggunakan internet setiap hari untuk bersosialisasi dan hiburan. Namun, hanya 37,5 persen anak yang pernah memperoleh edukasi mengenai keamanan digital, sementara 42 persen mengaku pernah merasa takut atau tidak nyaman akibat pengalaman di dunia maya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengingatkan bahwa berbagai bentuk kekerasan digital, termasuk cyber bulliying, bisa memicu gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, stres, depresi, hingga menurunnya rasa percaya diri.
BACA JUGA:Prestasi Membanggakan, Talenta Badminton Club Sabet Podium di SIRNAS B Medan 2026
BACA JUGA:Panduan Memilih Forklift: Harga Forklift, Hand Forklift, dan Rental Forklift untuk Berbagai Industri
Karena itu, WHO mendorong penguatan edukasi digital, dukungan psikologis bagi korban, serta kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan platform digital dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman.
Para ahli menilai bahwa mencegah cyberbullying tidak cukup hanya dengan regulasi. Literasi digital, etika berkomunikasi di internet, serta keberanian melaporkan tindakan perundungan menjadi kunci agar media sosial tetap menjadi ruang yang sehat, aman, dan produktif bagi seluruh pengguna.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: