A Time for Us, di Antara Pagi Blora dan Senja Semarang

Kamis 12-03-2026,16:53 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

“Aku bangga,” jawab Ardan. Senyumnya tipis namun tulus, meski ada getir yang tidak ia sembunyikan. Mereka berdiri lama. Angin sore berembus.

Sawah terhampar luas seperti dulu.

Namun hati mereka sudah tidak sama seperti masa SMA, ia berlapis luka, rindu, marah, penantian, dan rasa takut.

“Dan…” suara Laras bergetar, “aku masih ingin kita.”

Ardan menutup mata.

Sebagian dirinya ingin mengatakan: Ya, kita.

Sebagian lainnya ingin berkata: Pergilah, kamu berhak bahagia.

“Aku nggak pernah berhenti cinta,” bisik Ardan akhirnya. “Aku cuma takut jadi alasan kamu membatasi mimpi.”

Laras melangkah mendekat. “Kalau aku terbang, kamu pusat gravitasiku. Kamu bukan batas. Kamu rumah.”

Dan sore itu, mereka berpelukan, pelukan yang tidak lagi seperti anak SMA, tapi pelukan dua manusia yang telah dewasa, terluka, dan memilih tetap bersama meski masa depan masih penuh kabut.

Tidak ada janji untuk selamanya.

Tidak ada kata-kata puitis yang muluk.

Hanya sebuah rasa: keinginan untuk tetap bertahan.

Dan mungkin, di suatu tempat, lagu A Time for Us berbisik lembut:

There’ll be a time…

A time for us…

Kategori :