Laras memeluk Ardan, dan untuk pertama kalinya sejak lama, lelaki itu tidak memeluk balik seerat biasanya. Ada jarak tipis yang tak terlihat, tapi terasa menusuk.
**VI Retak yang Tidak Pernah Mereka Akui**
Bulan berikutnya, retak itu melebar. Laras mendapat kesempatan magang di media besar. Jadwalnya semakin kacau.
Ardan semakin sibuk memperluas kebun dan menangani pesanan sayuran.
Ketika mereka bicara, suara menjadi getas.
“Kenapa kamu nggak ngabarin?”
“Aku sibuk, Dan.”
“Kamu nggak punya lima menit?”
“Aku beneran capek…”
Kadang cinta tidak hilang.
Kadang cinta hanya kehabisan tenaga.
**VII A Time for Us—Jika Waktu Mau Memaafkan
Setelah lulus kuliah, Laras memutuskan pulang ke Blora beberapa hari sebelum wisuda. Ia butuh menyentuh tanah yang dulu membesarkan dirinya. Butuh memastikan bahwa cinta yang ia simpan tidak benar-benar hilang. Ia menulis pesan pendek:
Dan, ketemu di jembatan? Aku di Blora.
Ardan datang. Motor tuanya berdebu. Wajahnya lebih dewasa, lebih matang, tapi matanya masih mata yang sama, mata yang selalu mencari Laras di kerumunan mana pun.
“Aku lulus,” ucap Laras pelan.