“Aku harus pergi, Dan…” Laras menggigit bibirnya. “Tapi kamu tetap rumahku.”
Ardan ingin berkata banyak hal, ingin memohon, melarang, memaksa, tapi ia hanya mengangguk. Cinta yang sejati tidak mengikat pergelangan tangan, melainkan membuka pintu dan berharap yang pergi akan kembali.
Malam itu, saat bus yang membawa Laras ke Semarang mulai beranjak, Ardan berdiri sendirian di terminal kecil. Di dadanya, ada rasa kehilangan yang begitu asing, seolah sebagian dirinya ikut pergi.
**III Semarang yang Terlalu Cepat Blora yang Terlalu Pelan**
Di Semarang, Laras tenggelam dalam arus kehidupan baru. Kelas, organisasi, tugas, magang, pertemanan baru, semuanya menuntut waktunya tanpa kompromi.
Ia mulai jarang makan pada jam yang wajar, jarang tidur sebelum matahari muncul, jarang bisa pulang ke Blora.
Sementara Ardan bangun setiap subuh untuk melihat tanaman di kebun, mengurus pembeli, membawa panenan ke pasar. Hari-harinya berjalan seperti garis lurus yang ia akrabi sejak kecil. Awalnya mereka masih sering saling mengirim pesan.
Tapi waktu punya cara licik untuk menyelinap di antara dua hati yang mulai sibuk.
Pesan yang dulu panjang menjadi pendek.
Telepon yang dulu setiap malam berubah menjadi seminggu sekali.
Kadang Laras lupa mengabari. Kadang Ardan menunggu tanpa suara.
Laras mulai merasa bersalah.
Ardan mulai merasa ditinggalkan.
Dan jarak bukan hanya kilometer.