Disway Award

Freire di Jalan Berlubang, Habermas di Kolom Komentar

Freire di Jalan Berlubang, Habermas di Kolom Komentar

Ilustrasi Artikel Ahmad Sihabudin-AI-

Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta

 

INFORADAR.ID - Di sebuah negeri yang konon merdeka bahkan sampai ke lubang-lubangnya, jalan raya adalah metafora paling jujur tentang pemerintahan. Ia tidak bisa disensor, tidak bisa diedit, dan tidak bisa disembunyikan di balik pidato resmi. Jalan berlubang tidak mengenal retorika, ia hanya mengenal kenyataan: roda yang oleng, motor yang tergelincir, dan warga yang mengumpat dengan bahasa paling partisipatoris.

Di sinilah kita bertemu dengan dua tokoh besar yang mungkin tak pernah membayangkan nasib pemikirannya akan berakhir di TikTok: Paulo Freire dan Jürgen Habermas.

Freire, dengan gagasan conscientização-nya, mungkin dahulu membayangkan petani di Amerika Latin duduk melingkar, berdialog tentang penindasan struktural. Ia tidak membayangkan seorang warga berdiri di tengah kubangan jalan, sambil berkata, “Ini jalan atau kolam lele, Pak?” lalu mengunggahnya dengan backsound dangdut remix.

Namun, mari kita jujur: bukankah itu juga bentuk kesadaran kritis? 

Hari ini, warga tidak lagi sekadar menjadi objek pembangunan yang menunggu belas kasihan dari papan proyek bertuliskan “Dalam Proses”. Mereka telah naik kelas menjadi sutradara, kameramen, sekaligus narator penderitaan kolektif. Kamera ponsel menjadi alat emansipasi. Lubang jalan menjadi teks sosial. Dan komentar netizen menjadi ruang diskusi yang, meskipun kadang lebih banyak “wkwkwk” daripada argumen, tetap menyimpan benih demokrasi.

Freire mungkin akan tersenyum tipis, atau mungkin mengernyit, melihat bagaimana refleksi kritis kini hadir dalam durasi 30 detik. Tapi esensinya tetap sama: rakyat mulai memahami bahwa realitas sosial tidak harus diterima begitu saja. Bahwa jalan rusak bukan takdir, melainkan kebijakan yang tertunda, anggaran yang tersesat, atau perhatian yang salah alamat.

Sementara itu, di sudut lain teori, Habermas mengembangkan konsep ruang publik sebagai arena diskusi rasional. Ia membayangkan warga berkumpul di kafe, berdialog dengan argumen yang tertata, saling mendengarkan, dan mencapai konsensus melalui rasionalitas komunikatif.

Sayangnya, Habermas belum sempat hidup di era komentar:

“Fix ini gara-gara korupsi!”

“Bukan, ini salah cuaca!”

“Adminnya mana? Tag dong bupatinya!” bla-bla bla-bla.

Namun demikian, kita tidak boleh terlalu cepat meremehkan. Ruang publik digital, seaneh dan seberisik apa pun, telah menjadi tempat warga mengekspresikan haknya. Video jalan berlubang bukan sekadar keluhan; ia adalah pernyataan politik. Ia berkata: “Kami melihat. Kami merasakan. Dan sekarang kami bersuara.”

Di titik ini, demokrasi menjadi sesuatu yang unik: ia tidak lagi hanya berlangsung di ruang sidang atau forum musyawarah, tetapi juga di kolom komentar dan fitur share. Rasionalitas komunikatif ala Habermas mungkin sedikit tergelincir di jalan berlubang algoritma, tetapi semangat deliberatifnya tetap hidup, meski dalam bentuk meme.

Yang menarik, para kepala daerah kini menghadapi tantangan baru. Dulu, mereka cukup memastikan laporan tertulis rapi dan pidato terdengar meyakinkan. Sekarang, mereka harus siap menghadapi “inspeksi mendadak digital” dari warga yang lebih cepat dari tim survei mana pun. Jalan yang belum diperbaiki bisa viral sebelum sempat dianggarkan.

Ini menciptakan fenomena baru: pembangunan berbasis trending.

Jika sebuah jalan rusak tidak masuk ”for you page” FYP, maka ia seolah belum cukup penting untuk diperbaiki. Sebaliknya, jika sebuah video mendapat jutaan penonton, maka alat berat bisa datang lebih cepat daripada ambulans. Dalam logika ini, algoritma menjadi semacam “menteri bayangan” yang menentukan prioritas kebijakan.

Freire mungkin akan menyebut ini sebagai bentuk kesadaran yang setengah matang, sudah kritis, tetapi masih bergantung pada viralitas. Sementara Habermas mungkin akan menghela napas panjang, lalu bertanya: “Apakah ini masih bisa disebut diskursus rasional?”

Namun, mungkin kita juga perlu lebih adil. Demokrasi tidak selalu lahir dalam bentuk ideal seperti di buku teks. Ia sering muncul dalam bentuk yang kacau, lucu, bahkan absurd. Warga yang merekam jalan rusak sambil bercanda bukan berarti tidak serius. Justru di situlah kekuatannya: kritik yang dikemas dengan humor sering kali lebih tajam daripada laporan resmi setebal 200 halaman.

Satire menjadi bahasa baru komunikasi pembangunan. Ia menjembatani antara kemarahan dan harapan. Ia membuat kritik terasa ringan, tetapi tetap mengena. Ketika seorang warga berkata, “Ini jalan cocok buat wisata off-road gratis,” kita tahu bahwa itu bukan pujian.

Dalam konteks ini, masyarakat sebenarnya telah melampaui sekadar partisipasi. Mereka telah menjadi produsen makna. Mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menginterpretasi, mengkritik, dan menyebarkannya kembali. Ini adalah bentuk komunikasi partisipatoris yang paling nyata, meskipun kadang dibumbui filter dan musik latar.

Lalu, di mana posisi pemerintah?

Idealnya, pemerintah tidak hanya menjadi objek kritik, tetapi juga bagian dari dialog. Mereka perlu hadir bukan hanya dengan klarifikasi, tetapi dengan keterbukaan. Bukan hanya dengan janji, tetapi dengan respons yang bisa dilihat, dan direkam, tentu saja.

Karena pada akhirnya, di era ini, pembangunan tidak cukup hanya dilakukan. Ia juga harus “terlihat dilakukan”.

Di sinilah ironi terbesar kita: jalan yang mulus mungkin tidak akan pernah viral, tetapi jalan berlubang bisa menjadi simbol kegagalan yang abadi di internet. Maka, para pemimpin daerah kini harus memahami satu hal penting: bukan hanya rakyat yang sudah sadar, tetapi juga kamera mereka.

Dan kamera, seperti sejarah, tidak pernah benar-benar lupa.

Jadi, ketika suatu hari Anda melewati jalan rusak dan melihat seseorang mengeluarkan ponsel, jangan buru-buru menertawakan. Bisa jadi Anda sedang menyaksikan praktik conscientização versi terbaru, yang tidak lagi berlangsung di ruang kelas, tetapi di pinggir jalan, dengan caption:

“Pak, ini jalan apa ujian hidup?”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: