Yang Bergizi Makanannya atau Proyeknya?

Yang Bergizi Makanannya atau Proyeknya?

Artikel karya Ahmad Sihabudin tentang Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia-Ilustrasi by AI-

Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta 

 

INFORADAR.ID - Di negeri yang segala urusannya bisa menjadi bahan diskusi warung kopi, program Makan Bergizi Gratis hadir bak pahlawan super yang turun dari langit kampanye. Ia datang dengan janji mulia: anak-anak kenyang, gizi meningkat, masa depan bangsa cemerlang. Sebuah gagasan yang jika ditulis dalam puisi akan terdengar seperti lagu kebangsaan yang dinyanyikan sambil memegang piring makan.

Siapa yang berani menolak anak-anak makan bergizi? Masalahnya, di negeri ini sering kali yang sulit bukanlah menemukan ide baik, melainkan memastikan ide baik itu tidak tersesat di jalan menuju pelaksanaan.

Maka lahirlah sebuah fenomena yang menarik: sebelum ayam, telur, sayur, dan susu sampai ke meja makan siswa, terlebih dahulu mereka harus melewati hutan birokrasi, rawa administrasi, dan kadang-kadang jurang koordinasi. Perjalanan makanan itu bahkan lebih panjang daripada perjalanan sebagian mahasiswa menyelesaikan skripsi.

Dalam teori, anak-anak mendapat makan bergizi.

Dalam praktik, kadang yang sampai adalah berita tentang makanan basi, keracunan, atau distribusi yang membingungkan.

Tentu tidak semua demikian. Banyak tempat menjalankan program ini dengan baik. Namun dalam tradisi birokrasi Indonesia, keberhasilan sering berjalan kaki, sedangkan masalah naik motor sport.

Begitu ada satu kasus keracunan, berita menyebar lebih cepat daripada aroma rendang di hari Lebaran.

Publik pun bertanya-tanya.

Apakah yang bergizi makanannya?

Ataukah yang bergizi justru anggaran dan proyeknya?

Pertanyaan ini terdengar nakal, tetapi dalam demokrasi pertanyaan nakal sering kali lebih sehat daripada jawaban yang terlalu sopan.

Seorang filsuf mungkin akan berkata bahwa manusia adalah makhluk rasional.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: