Disway Award

Antara Ombak dan Azan

Antara Ombak dan Azan

Cerpen Ahmad Sihabudin berjudul Anatara Ombak dan Azan-AI-

Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta 

 

INFORADAR.ID - Di sebuah kota kecil di ujung barat Indonesia di mana samudra seolah menjadi sajadah luas yang membentang hingga cakrawala, hidup seorang pemuda bernama Salman. Kota itu tak pernah benar-benar tidur. Angin asin dari laut berembus melewati menara-menara masjid, menyentuh rumah-rumah kayu tua, dan menggetarkan jendela-jendela yang telah lama menyimpan doa.

Salman dikenal sebagai anak muda yang gemar menulis. Di warung kopi dekat pelabuhan, ia sering duduk berjam-jam dengan buku catatan lusuh, mencoba merangkai kisah-kisah sederhana tentang kampungnya. Suatu sore selepas asar, ketika langit memerah dan azan magrib belum lagi berkumandang, ia menuliskan kalimat pertama di halaman kosong:

“Aku hanya ingin menulis kisah yang sederhana.”

Namun sebagaimana laut yang tak pernah benar-benar sederhana, kalimat itu menyeretnya jauh ke dalam dirinya sendiri.

Ia bermaksud menulis tentang kehidupan nelayan, tentang perahu-perahu yang berangkat sebelum fajar dan kembali dengan harap-harap cemas. Tapi di tengah kalimat ketiga, pikirannya terbelah. Ia justru teringat masa lalu—tentang ambisinya meninggalkan kota itu demi mengejar “emas bajak laut”-nya sendiri: kemasyhuran, pengakuan, kekayaan yang ia bayangkan akan mengangkat derajat keluarganya.

Beberapa tahun lalu, ia pergi ke kota besar. Ia meninggalkan ibunya yang semakin renta, ayahnya yang diam-diam menua di balik ketegaran, dan sahabat-sahabat yang dulu bersamanya mengaji di surau kecil dekat pantai. Ia berkata pada mereka, “Aku akan kembali dengan sesuatu yang besar.”

Tetapi kota besar hanya memberinya kebisingan. Ia bekerja di perusahaan penerbitan, menulis demi menulis, namun tak pernah merasa benar-benar menulis. Kata-katanya terasa seperti barang dagangan. Ia mulai lupa mengapa ia mencintai huruf-huruf.

Di tengah kesibukan itu, ia jarang salat tepat waktu. Doanya menjadi formalitas, seperti tanda tangan di akhir kontrak. Hingga suatu malam, ketika ia berdiri di balkon apartemen sempitnya, menatap lampu-lampu kota yang tak pernah padam, ia merasakan kehampaan yang aneh. Seolah ia telah berjalan sangat jauh, tetapi justru semakin jauh dari rumah.

Ia kembali ke kampung beberapa bulan kemudian—bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai seseorang yang kelelahan.

**********

Di kota kecil itu, ada sekelompok pemuda yang menamakan diri mereka “Langkah Fajar.” Mereka bukan organisasi resmi, hanya kumpulan anak-anak muda yang setiap pekan berkumpul di masjid tua dekat mercusuar. Mereka berdiskusi tentang tafsir Al-Qur’an, tentang sejarah, tentang bagaimana menjadi Muslim yang utuh di zaman yang serba cepat.

Ketua tak resmi mereka adalah Rahmat, seorang guru honorer yang wajahnya selalu tampak teduh. Ia pernah berkata, “Kita ini seperti peziarah. Bukan hanya menuju akhirat, tapi juga menuju diri kita yang sejati.”

Salman awalnya hanya duduk di sudut, mendengarkan. Ia merasa tak layak berbicara tentang perjalanan spiritual. Baginya, perjalanan selalu berarti perpindahan tempat, bukan perubahan hati.

Suatu malam, Rahmat mengangkat tema tentang niat. Ia membaca hadis tentang setiap amal tergantung niatnya. Lalu ia bertanya, “Bagaimana kalau niat kita berubah di tengah jalan? Apakah perjalanan itu batal, atau justru di situlah kita diuji?”

Pertanyaan itu menghantam Salman lebih keras dari ombak musim barat.

Sepulang dari masjid, ia membuka kembali buku catatannya. Ia menulis tentang seorang pemuda yang pergi mencari emas, tetapi kehilangan peta. Ia menulis tentang jalan-jalan yang tampak menjanjikan, namun berujung buntu. Ia menulis tentang penyesalan—tentang bagaimana terkadang kita menyadari jarak dari rumah justru ketika kita berhenti berlari.

Di halaman berikutnya, ia menulis: “Aku mencari tikungan yang dijanjikan, tetapi yang kutemukan hanya betapa jauhnya aku dari asal.”

Kalimat itu membuatnya terdiam lama. Ia tahu, yang ia cari selama ini bukanlah kekayaan atau nama besar. Ia mencari pembenaran atas kegelisahannya. Ia mencari makna yang tak bisa dibeli.

*******

Beberapa pekan kemudian, badai besar melanda kota itu. Ombak meninggi, perahu-perahu ditarik ke darat. Listrik padam semalaman. Di tengah gelap, warga berkumpul di masjid, menyalakan lilin dan membaca doa bersama.

Salman duduk di saf belakang. Ia melihat wajah-wajah yang dulu ia tinggalkan: ibunya yang kini lebih banyak diam, sahabatnya Amir yang tetap setia menjadi nelayan, dan anak-anak kecil yang tertawa meski angin menderu.

Dalam cahaya lilin yang redup, ia menyadari sesuatu: ia tak pernah benar-benar sendirian. Ia hanya terlalu sibuk mengejar bayangan dirinya sendiri.

Setelah badai reda, Rahmat mengajak kelompok “Langkah Fajar” membersihkan pantai. Mereka memunguti kayu-kayu patah, jaring yang terseret, dan sampah yang terdampar. Salman ikut bekerja tanpa banyak bicara. Tangannya kotor, bajunya basah, tetapi hatinya terasa ringan.

Di sela-sela kerja, Amir berkata, “Dulu kau ingin menulis tentang kami, kan? Tulis saja apa adanya. Tak perlu indah-indah.”

Salman tersenyum. “Aku takut tak punya kata-kata yang cukup.”

Amir tertawa kecil. “Kata-kata itu sudah ada sebelum kau lahir. Kita cuma giliran mengucapkannya.”

Ucapan itu terpatri di benaknya.

*******

Malam itu, di kamar kecilnya yang menghadap laut, Salman kembali menulis. Ia tidak lagi mencoba membuat kisah yang besar. Ia menulis tentang ibunya yang bangun sebelum fajar untuk salat tahajud. Tentang ayahnya yang tetap ke laut meski lututnya sering nyeri. Tentang Rahmat yang mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an dengan sabar. Tentang Amir yang tak pernah mengeluh meski hasil tangkapan tak seberapa.

Ia menulis tentang dirinya—tentang kesombongan yang pernah ia pelihara, tentang doa-doa yang ia lalaikan, tentang luka-luka yang ia torehkan tanpa sadar.

Setiap kalimat terasa seperti pengakuan. Setiap paragraf seperti istighfar.

Di akhir tulisannya, ia menuliskan:

“Kisah ini bukan milikku sepenuhnya. Kata-katanya telah diucapkan oleh banyak orang sebelumku. Aku hanya meneruskannya, seperti peziarah yang melanjutkan jejak-jejak lama di pasir pantai.”

Ia menutup buku itu dan mendengar azan subuh berkumandang dari masjid dekat mercusuar. Suaranya menyatu dengan debur ombak, seperti himne yang tak pernah usai.

Salman berjalan menuju masjid bersama warga lain. Langit perlahan memucat, memisahkan malam dari pagi. Ia merasa belum sampai ke mana-mana—perjalanannya masih panjang, mungkin tak akan pernah benar-benar selesai. Tetapi untuk pertama kalinya, ia tak lagi takut tersesat.

Ia mengerti kini bahwa perjalanan bukan tentang menemukan emas, melainkan tentang menemukan kejujuran. Bukan tentang menjadi yang pertama mengucapkan kebenaran, melainkan tentang bersedia menjadi mata rantai dalam estafet panjang makna.

Di ujung barat itu, di kota kecil yang dipeluk laut dan doa, seorang pemuda akhirnya memahami bahwa menjadi peziarah berarti terus berjalan—dengan rendah hati, dengan niat yang diperbarui, dan dengan kesadaran bahwa rumah bukan sekadar tempat kembali, melainkan arah yang selalu memanggil dari dalam dada.

Dan di antara suara ombak dan azan, kisah itu pun terus berlanjut.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: