Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta
**I Di Kota Kecil Tempat Segala Sesuatu Dimulai**
Blora selalu punya pagi yang pelan.
Burung-burung tak pernah bernyanyi serentak, mereka membiarkan udara membuka hari dengan cara yang lembut. Di kota kecil itu, di sebuah SMA dengan halaman luas dan pepohonan jati berdiri tegak seperti penjaga masa remaja, Laras dan Ardan pertama kali bertemu.
Mereka berdua bukan pasangan yang langsung tahu bahwa mereka ditakdirkan bersama. Tidak. Cinta mereka tumbuh seperti akar pohon jati, pelan, sabar, menembus tanah sedikit demi sedikit, sampai suatu hari seseorang baru sadar betapa dalamnya ia tertanam.
Laras, gadis yang matanya seperti menyimpan hujan yang tak pernah benar-benar jatuh, suka membaca di perpustakaan tua sekolah.
Sementara Ardan, yang kulitnya menghitam oleh matahari kebun dan senyumnya selalu seadanya, suka menunggu Laras pulang hanya untuk berjalan beberapa meter bersamanya. Tak ada janji. Tak ada pernyataan cinta megah.
Hanya dua remaja yang diam-diam saling menjaga keberadaan satu sama lain.
Kadang mereka pulang menyusuri jalan dekat pasar lama. Kadang berhenti di warung es teh favorit mereka. Kadang hanya berdiri di depan gapura rumah Laras sambil pura-pura membicarakan PR, padahal keduanya hanya ingin memperpanjang sore.
Jika cinta punya aroma, cinta mereka adalah aroma kayu jati yang menghangatkan, melekat pada rambut Laras dan baju Ardan setiap kali angin sore berhembus.
**II Ketika Perpisahan Datang Seperti Hujan Pertama**
Setelah kelulusan SMA, hidup membuka pintu baru, pintu yang tak semua orang siap memasukinya. Laras diterima di sebuah universitas besar di Semarang.
Ardan tinggal di Blora, meneruskan usaha pertanian keluarganya, menanam sayuran organik, mengenali tanah, cuaca, ritme musim, dan rezeki yang tidak selalu bisa ditebak.
Malam sebelum Laras pergi, mereka bertemu di jembatan kecil dekat sawah yang menjadi tempat segala hal rahasia diucapkan. Cahaya bulan menetes di permukaan air seperti serpihan mimpi yang tak ingin hilang. “Kamu yakin mau pergi?” tanya Ardan, meski ia tahu jawabannya.