Kadang jarak adalah kalimat yang tidak pernah terkirim.
**IV Suara-suara yang Ingin Memisahkan**
Cinta mereka tidak hanya diuji oleh jarak, tapi oleh manusia.
Di Semarang, bibi Laras sering berpesan: “Laras, kamu pintar. Jangan sia-siakan masa depan. Cari pasangan yang jelas kariernya. Anak kampung begitu paling nanti cuma bikin kamu susah.” Laras menahan diri untuk tidak membela Ardan. Ia lelah menjelaskan bahwa cinta tidak bisa diukur dari kota besar atau kota kecil.
Di Blora, ibu Ardan berkata dengan nada cemas: “Dan, cewek kota itu nggak bakal balik. Kamu nunggu apa? Cari yang dekat-dekat saja. Ngerti susah senang hidup di kampung.”
Ardan hanya diam. Ia tidak ingin membantah orang tua, tapi hatinya menolak menerima kalimat itu. Begitulah cinta mereka, sering kali kalah oleh suara orang lain, padahal mereka berdua belum menyerah.
**V Pertemuan yang Paling Menyakitkan adalah yang Terasa Singkat**
Suatu liburan singkat, Laras pulang. Mereka bertemu di jembatan kecil favorit mereka, yang kini mulai dipenuhi lumut dan rumput tinggi. Laras terlihat begitu lelah, matanya bengkak karena begadang, langkahnya lambat.
Ardan meraih tangan Laras, namun gadis itu tampak ingin menangis.
“Aku merasa kamu jauh, Dan,” kata Laras.
“Padahal aku terus mencoba kembali.”
Ardan menarik napas panjang. “Aku nggak pernah mau pergi dari kamu. Tapi kamu terbang terlalu tinggi, Ras… aku takut aku cuma angin yang kamu lewatkan.”
Laras menggigit bibir. “Kenapa kamu bicara begitu?”
“Karena aku takut,” jawab Ardan. “Takut suatu hari Semarang memberimu seseorang yang lebih pantas dari aku.”
Kata-kata itu jatuh seperti hujan yang mendadak turun tanpa mendung.