GHIBAH: Saat Aib Menjadi Tontonan dan Gugatan Menjadi Penghakiman

GHIBAH: Saat Aib Menjadi Tontonan dan Gugatan Menjadi Penghakiman

Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-

Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta 

 

Ada sesuatu yang menarik dari lagu “Ghibah” karya Rhoma Irama. Lagu ini sebenarnya tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang baru. Manusia sejak dahulu memang gemar membicarakan manusia lain, yang berubah hanyalah medianya.

Dulu ghibah dilakukan di beranda rumah, di warung kopi, di pasar, di pengajian, atau sambil duduk bergerombol di bawah pohon. Sekarang ghibah bisa dilakukan dengan kamera, lampu studio, mikrofon, moderator, narasumber, bahkan disiarkan kepada jutaan pasang mata.

Dulu orang berkata, “Jangan bilang siapa-siapa, ya.” Sekarang kalimatnya bisa berubah menjadi, “Kita bahas secara terbuka malam ini.”

Di sinilah lagu Rhoma Irama menjadi menarik dibaca secara hermeneutis. Sebab sebuah teks, termasuk teks lagu, tidak pernah berhenti pada kata-kata yang ditulis pengarang. Ia hidup ketika dibaca kembali dalam konteks zaman yang berbeda.

Maka “Ghibah” hari ini tidak hanya berbicara tentang orang yang suka bergunjing di warung kopi. Ia juga berbicara tentang manusia digital yang dapat mengubah persoalan pribadi menjadi tontonan publik.

Dari Al-Hujurat ke Studio Televisi

Rhoma Irama mengingatkan bahwa ghibah adalah perbuatan tercela. Dasarnya jelas dalam Al-Qur’an, terutama Surah Al-Hujurat ayat 12. Allah menggambarkan orang yang menggunjing saudaranya seperti orang yang memakan daging saudaranya yang telah mati. Gambaran itu sangat keras.

Tetapi justru karena keras, ia mengandung pesan hermeneutis yang dalam: ghibah bukan sekadar aktivitas berbicara; ia adalah tindakan yang merusak martabat manusia. Orang yang digunjingkan tidak hadir untuk menjelaskan dirinya. Ia tidak memiliki kesempatan menjawab. Ia berubah dari manusia menjadi objek pembicaraan.

Dalam komunikasi, terjadi ketimpangan posisi, yang berbicara memegang kendali atas cerita. Yang dibicarakan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Karena itu, kita perlu berhati-hati melihat berbagai talk show, diskusi, debat, podcast, dan konten media sosial. Tentu tidak semua pembicaraan mengenai seseorang adalah ghibah. Kritik terhadap pejabat, pemeriksaan fakta, pengujian kebijakan publik, dan proses hukum merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi.

Persoalannya muncul ketika kritik terhadap tindakan berubah menjadi penghukuman terhadap pribadi; pencarian fakta berubah menjadi pembongkaran aib; dan proses hukum berubah menjadi penghakiman oleh kerumunan. Di situlah kita perlu berhenti sejenak.

Isu Ijazah Gibran: Antara Gugatan, Kritik, dan Ghibah

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: