Disway Award

Uang, Tuhan Kecil yang Terlalu Serius

Uang, Tuhan Kecil yang Terlalu Serius

Prof Ahmad Sihabuddin-Istimewa-

Pink Floyd tertawa pahit di bagian ini, tertawa yang terdengar seperti bunyi mesin kasir yang tak pernah berhenti.

Uang dan Hilangnya Rasa Cukup

Paling  berbahaya dari uang bukan jumlahnya, melainkan sifatnya yang tak pernah merasa cukup. Semakin banyak ia dimiliki, semakin besar ketakutan untuk kehilangannya. Maka lahirlah kerakusan yang dibungkus ambisi, dan ambisi yang disamarkan sebagai kerja keras.

Dalam budaya seperti ini, kejujuran dianggap idealisme naif. Integritas dipuji dalam seminar, tetapi ditinggalkan dalam praktik. Orang jujur sering kalah cepat, kalah licin, kalah “adaptif”. Uang mengajarkan logika baru: yang penting bukan benar atau salah, melainkan untung atau rugi.

Di titik ini, Money tidak lagi terasa seperti lagu rock progresif. Ia berubah menjadi cermin retak, memantulkan wajah kita yang tersenyum di depan publik, tetapi menghitung diam-diam di belakang layar.

Dari Dompet ke Jiwa

Yang jarang kita sadari, penyembahan terhadap uang bukan hanya merusak sistem, tetapi juga menggerogoti jiwa. Ketika segala sesuatu diukur dengan materi, manusia pelan-pelan kehilangan kemampuan untuk menghargai hal-hal yang tak bisa diuangkan: kepercayaan, kesederhanaan, rasa cukup, dan keadilan.

Mungkin itulah sebabnya Pink Floyd menutup lagunya dengan nada sinis, hampir mengejek: “But if you ask for a rise it’s no surprise, That they’re giving none away” 

Kita hidup di dunia yang menjanjikan kesejahteraan, tetapi mempraktikkan ketimpangan. Dunia yang memuja kesuksesan, tetapi diam terhadap cara mencapainya.

Mendengar Ulang Lagu Lama

Lagu Money sudah sangat tua. Tetapi anehnya, ia tidak pernah terdengar usang. Justru kita yang tampak tidak banyak berubah sejak pertama kali lagu itu dirilis. Barangkali karena kita terlalu sibuk mengejar uang, sampai lupa mendengarkan peringatannya.

Mungkin sudah saatnya kita mendengar ulang lagu ini, bukan sebagai nostalgia masa SMP, tetapi sebagai refleksi kolektif. Bahwa uang seharusnya berada di tangan manusia, bukan manusia di tangan uang. Bahwa kekuasaan tanpa etika hanyalah mesin kasir raksasa yang berbunyi nyaring, tetapi hampa makna.

Dan jika hari ini uang masih menjadi akar dari banyak kejahatan, barangkali masalahnya bukan pada uang itu sendiri, melainkan pada manusia yang terlalu serius menyembahnya.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: