Disway Award

Ramadhan, Media, dan Kesalehan yang Dipertontonkan

Ramadhan, Media, dan Kesalehan yang Dipertontonkan

Ahmad Sihabuddin-Istimewa-

Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta 

 

INFORADAR.ID - Setiap menjelang Ramadhan, kita seperti menyaksikan satu ritual sosial yang berulang dengan pola nyaris seragam. Media televisi, radio, Media cetak, hingga Media sosial, tiba-tiba berubah “insaf”. Format isi, gaya bahasa, warna visual, hingga pilihan tokoh mengalami metamorfosis seketika menjadi serba religius, serba syari’ah. 

Program hiburan diganti dengan hiburan bertema religi. Tayangan komedi diberi baju moral. Ceramah agama menjamur di berbagai jam tayang. Di ruang digital, TikTok, Instagram, dan YouTube dipenuhi konten hijrah, kutipan ayat, potongan tausiyah, hingga drama religi berdurasi pendek yang dikemas kreatif dan emosional.

Fenomena ini, pada satu sisi, adalah sesuatu yang wajar. Setiap institusi media memiliki hak penuh atas kebijakan redaksional dan strategi programnya. Demikian pula individu, content creator, influencer, atau pengguna media sosial, memiliki kebebasan mengekspresikan religiusitasnya. Namun, pada sisi lain, perubahan massif dan serentak ini tidaklah bebas nilai. Ia membawa dampak psikologis, kultural, dan spiritual yang patut direnungkan secara kritis.

Ramadhan, yang secara teologis dimaknai sebagai bulan penggemblengan iman dan pengendalian diri, justru kerap berubah menjadi musim konsumsi religius. Waktu luang yang lahir dari pengurangan jam kerja, liburnya peserta didik, dan menurunnya aktivitas fisik akibat puasa, tidak selalu bermuara pada peningkatan ibadah. Sebaliknya, waktu senggang itu sering dihabiskan untuk menonton televisi, menelusuri media sosial tanpa henti, bermain gim, atau terjebak dalam percakapan digital yang panjang namun dangkal.

Di Sinilah Kegelisahan itu Bermula

Saya berani mengatakan secara ekstrem: bagi industri media, Ramadhan bukan pertama-tama momentum spiritual, melainkan momentum pasar. Bulan suci ini dibaca sebagai ceruk ekonomi yang sangat potensial. Audiens meningkat, waktu menonton bertambah, keterikatan emosional menguat. Dalam logika industri, semua itu berarti peluang iklan, rating, dan engagement yang tinggi.

Saya memang belum melakukan penelitian empiris yang sistematis terhadap konten media Ramadhan. Namun sebagai penonton sekaligus warga budaya, satu hal terasa jelas: jejak spiritual tayangan Ramadhan nyaris tak pernah bertahan lama. Begitu bulan suci berlalu, program-program religius itu ikut lenyap. Nilai-nilai yang diusung tidak berlanjut menjadi kesadaran kolektif. Kesalehan yang diproduksi bersifat musiman, temporer, dan seremonial.

Ramadhan hadir, Ramadhan dijual. Ramadhan usai, Ramadhan ditinggalkan.

Dalam konteks ini, sulit menolak anggapan bahwa yang terjadi adalah komodifikasi agama. Nilai-nilai Islam tidak lagi diposisikan sebagai sumber transformasi batin, melainkan sebagai konten yang dapat dikemas, dipoles, dan dijual. Dari sinilah muncul pertanyaan etis yang lebih dalam: apakah tayangan keagamaan dinilai dari kedalaman maknanya, atau dari daya jualnya? Apakah seorang dai dipilih karena keluasan ilmunya, atau karena kemampuannya mendongkrak rating? Apakah kesalehan yang ditampilkan sungguh membimbing, atau sekadar menghibur?

Televisi dan media digital bekerja dalam logika pasar. Program bukan sekadar pesan, melainkan produk. Ia harus laku, harus menarik pengiklan, harus sesuai selera audiens. Maka tidak mengherankan jika ceramah agama pun dikemas layaknya hiburan: singkat, emosional, penuh humor, atau dramatis. Bahkan, tidak jarang media dengan sengaja menciptakan figur-figur religius instan, tokoh yang dipopulerkan, dibangun citranya, lalu “dijual” ke berbagai program dan panggung.

Di era algoritma, situasinya kian kompleks. Media sosial tidak hanya menampilkan apa yang bermakna, tetapi apa yang viral. Kesalehan pun tunduk pada logika klik, like, dan share. Potongan ayat bersaing dengan tarian religi. Tausiyah berdampingan dengan prank bertema hijrah. Agama masuk ke dalam arus perhatian yang serba cepat dan dangkal.

Padahal, secara psikologis, Ramadhan adalah momen peningkatan religiusitas. Lingkungan sosial mendukung: azan lebih sering terdengar, masjid lebih hidup, percakapan publik lebih bernuansa moral. Dalam situasi seperti ini, media seharusnya memainkan peran strategis sebagai penuntun kesadaran, bukan sekadar pengisi waktu luang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: