Disway Award

Uang, Tuhan Kecil yang Terlalu Serius

Uang, Tuhan Kecil yang Terlalu Serius

Prof Ahmad Sihabuddin-Istimewa-

Oleh: Ahmad Sihabudin, Dosen Ilmu Komunikasi Untirta

 

Saya pertama kali mendengar lagu Money dari Pink Floyd ketika masih kelas tiga SMP. Usia yang seharusnya diisi oleh hafalan rumus, kegagalan cinta pertama, dan mimpi-mimpi sederhana tentang masa depan. Tapi entah mengapa, denting mesin kasir dan irama ganjil 7/4 itu menetap lama di kepala. Ada sesuatu yang tidak selesai dari lagu ini. Seolah ia bukan sekadar lagu, melainkan peringatan dini alarm moral yang berbunyi terlalu awal, bahkan sebelum saya benar-benar mengenal apa itu uang.

“Money, it’s a gas, Grab that cash with both hands and make a stash”

Waktu itu saya belum paham makna sepenuhnya. Namun kini, puluhan tahun kemudian, saya merasa lirik itu bukan hanya relevan, melainkan terlalu akurat, bahkan nyaris seperti laporan rutin tentang keadaan sosial kita hari ini.

Uang yang Naik Pangkat

Uang, dalam kehidupan modern, bukan lagi alat tukar. Ia telah naik pangkat: menjadi tujuan, identitas, bahkan semacam “tuhan kecil” yang tak pernah mengaku ilahi, tetapi ditaati lebih khusyuk daripada nilai-nilai moral.

Dari kepala desa sampai menteri, dari pengusaha sampai birokrat, dari politisi sampai pejabat publik, semuanya seperti bergerak dalam satu orbit yang sama. Bukan lagi orbit pelayanan, melainkan orbit akumulasi. Uang tidak sekadar menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga mengatur arah nurani.

Kita menyaksikan kepala desa yang awalnya bicara tentang gotong royong, perlahan lebih fasih bicara tentang “proyek”. Politisi yang dulu berpidato tentang penderitaan rakyat, kini lebih sibuk menghitung suara seperti menghitung lembaran uang. Birokrat yang seharusnya menjaga sistem, malah lihai mencari celah di dalamnya. Semua tampak sah, legal, prosedural, tetapi kosong secara etis.

Pink Floyd menyindir semua itu jauh sebelum kita sibuk dengan istilah good governance dan transparency index: “Money, so they say Is the root of all evil today” Ironisnya, kita sering mengutip kalimat ini seperti pepatah kuno, lalu mengabaikannya seperti nasihat orang tua yang dianggap tidak relevan.

Ketika Uang Menjadi Bahasa Resmi

Korupsi di negeri ini sering dipahami sebagai pelanggaran hukum. Padahal lebih dari itu, ia adalah kegagalan imajinasi moral. Uang telah menjadi bahasa resmi kekuasaan, lebih fasih daripada konstitusi, lebih dipercaya daripada sumpah jabatan.

Di ruang-ruang rapat ber-AC, keputusan publik kadang tidak diambil berdasarkan kepentingan rakyat, melainkan berdasarkan angka-angka yang tak pernah tercantum di notulen. Semua dibungkus rapi dengan istilah teknokratis: fee proyek, uang lelah, komitmen. Seolah dengan mengganti nama, dosa ikut berganti rupa.

Kita  sering marah bukan karena korupsinya, melainkan karena pelakunya “tertangkap”. Seakan masalahnya bukan mencuri uang rakyat, tetapi kurang cerdas menyembunyikannya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: