Disway Award

Mazmur untuk Tuhan Kecil di Balik Seragam Cokelat

Mazmur untuk Tuhan Kecil di Balik Seragam Cokelat

Prof Ahmad Sihabuddin-Istimewa-

Oleh: Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta

 

INFORADAR.ID - Kasus yang menjerat AKBP Didik Putra, seorang perwira menengah yang pernah memimpin wilayah dan disegani anak buahnya menampar kesadaran publik dengan keras. Ia bukan sekadar oknum.

Ia simbol dari ironi yang telanjang: aparat yang seharusnya memberantas narkoba justru diduga menjadi bagian dari mata rantai peredarannya.

Lebih getir lagi, pusaran kasus itu menyeret lingkaran terdekat, istri dan anak buahnya, sehingga tragedi ini tak hanya menjadi perkara hukum, tetapi juga drama moral yang memperlihatkan bagaimana kekuasaan, uang, dan hasrat dapat meluluhlantakkan integritas.

Nama istrinya, Miranti Afrina, dan seorang anggota, Aipda Dianita Agustina, ikut diperiksa. Tes darah dan rambut dilakukan untuk memastikan keterlibatan. Publik terhenyak ketika isu permintaan mobil mewah seperti Alphard dan dugaan penyimpanan narkoba menyeruak. 

Di sini kita menyaksikan bukan hanya dugaan kejahatan, tetapi juga simbol gaya hidup: kendaraan mewah, kas ratusan juta rupiah, tanah di Mojokerto, dua mobil termasuk Pajero, harta yang tercatat sekitar Rp 1,48 miliar dalam LHKPN terakhirnya. Harta dan karier yang kontras. Dari Gorontalo, Metro Jaya, hingga NTB, perjalanan jabatan itu tampak mapan dan menjanjikan. Namun semua runtuh dalam sekejap. Dari Kapolres yang disegani menjadi tersangka narkoba yang terancam dua dekade penjara dan pemecatan.

Di titik inilah esai ini ingin berdialog dengan tulisan saya sebelumnya, “Uang Tuhan Kecil yang Terlalu Serius.” Dalam artikel itu saya menyebut uang sebagai “Tuhan kecil” sesuatu yang kita ciptakan untuk mempermudah hidup, tetapi kemudian kita sembah dengan kesungguhan yang berlebihan.

Uang, yang seharusnya menjadi alat, berubah menjadi tujuan. Ia memerintah, mengatur prioritas, dan menggeser nilai-nilai. Ketika uang menjadi Tuhan kecil yang terlalu serius, manusia pun rela menukar kehormatan dengan nominal, martabat dengan mesin beroda empat, sumpah jabatan dengan setoran.

Kasus polisi yang diduga terlibat peredaran narkoba adalah gambaran ekstrem dari penyembahan tersebut. Profesi kepolisian lahir dari mandat etis: melindungi, mengayomi, dan menegakkan hukum.

Dalam konteks pemberantasan narkoba, polisi berada di garis depan perang melawan zat yang merusak generasi. Ketika seorang perwira yang sedang menjabat Kapolres, justru diduga menjadi bagian dari peredaran itu, maka yang rusak bukan hanya sistem hukum, tetapi juga imajinasi moral masyarakat. Kepercayaan publik modal sosial terpenting retak.

Ironi ini mengingatkan kita pada paradoks klasik kekuasaan: siapa yang mengawasi pengawas? Polisi memiliki otoritas, akses informasi, jaringan, dan kuasa koersif. Di tangan yang berintegritas, semua itu menjadi instrumen keadilan. Namun di tangan yang tergoda “Tuhan kecil,” ia menjelma mesin rente. Dalam struktur yang memberi celah, godaan itu membesar: setoran dari bandar, perlindungan terselubung, gaya hidup yang melonjak. Mobil mewah bukan lagi sekadar kendaraan, melainkan lambang keberhasilan atau lebih tepatnya, lambang keberhasilan semu.

Dalam “Uang Tuhan Kecil yang Terlalu Serius,” saya menulis bahwa uang menjadi berbahaya ketika ia kehilangan konteks etik. Ia netral sebagai alat, tetapi rakus ketika diberi makna berlebih.

Dalam kasus ini, uang tidak berdiri sendiri. Ia bersenyawa dengan status, gengsi, dan kekuasaan. Alphard bukan sekadar mobil; ia simbol posisi. Pajero bukan sekadar kendaraan; ia pernyataan kelas. Ketika simbol-simbol itu dijadikan ukuran harga diri, maka integritas menjadi komoditas yang bisa dinegosiasikan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: