Mengapa Tubuh Sering Drop di 10 Hari Terakhir Ramadan? Ini Penjelasannya
potret seseorang yang sedang sakit--Freepik @stockking
INFORADAR.ID - Memasuki 10 hari terakhir Ramadan, banyak orang merasa kondisi fisiknya menurun drastis. Gejala seperti badan lemas, pusing, hingga mudah terserang flu sering muncul di fase ini.
Fenomena ini sebenarnya wajar terjadi, namun ada alasan medis dan kebiasaan di baliknya yang perlu kita pahami agar tetap bisa beribadah dengan optimal.
Akumulasi Kelelahan Fisik
Penyebab paling utama adalah akumulasi kelelahan yang terjadi selama hampir tiga minggu berpuasa. Tubuh manusia memiliki batas cadangan energi. Setelah berhari-hari mengalami perubahan pola makan dan jam tidur, energi yang tersimpan mulai menipis.
Jika tidak diimbangi dengan istirahat yang cukup, tubuh akan memberikan sinyal "kelelahan kronis" di minggu terakhir.
BACA JUGA:Menhub Tinjau Arus Mudik di Pelabuhan Merak, Sebut Penyeberangan Berjalan Lancar
BACA JUGA:Arus Mudik Lebaran 2026 H-6 Meningkat, 88.791 Pemudik Sudah Menyeberang ke Sumatera
Gangguan Pola Tidur
Di 10 hari terakhir, banyak orang meningkatkan intensitas ibadah malam, seperti iktikaf atau salat malam. Perubahan drastis pada siklus tidur (ritme sirkadian) ini memicu stres pada tubuh.
Kurangnya durasi tidur yang berkualitas membuat sistem imun melemah, sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi virus atau bakteri yang menyebabkan sakit.
Dehidrasi dan Defisit Nutrisi
Sering kali saat sahur atau berbuka, kita kurang memperhatikan asupan cairan dan gizi seimbang. Konsumsi makanan tinggi gula (takjil manis) yang berlebihan namun kurang sayur dan protein membuat kadar gula darah tidak stabil.
Ditambah dengan kurangnya asupan air putih, tubuh mengalami dehidrasi ringan yang memicu sakit kepala dan rasa lemas yang berkepanjangan.
BACA JUGA:GenBI Banten Gelar Health Talk Ramadan, Bahas Pentingnya Menjaga Kesehatan Saat Puasa
BACA JUGA:H-4 Lebaran, Penumpang di Stasiun Rangkasbitung Tembus 300 Ribu Lebih
Penurunan Imunitas karena Stres
Puasa secara alami adalah proses detoksifikasi, namun jika ditambah dengan tekanan pekerjaan atau persiapan menyambut hari raya, tingkat hormon kortisol (hormon stres) dalam tubuh akan meningkat. Hormon ini, jika berlebihan, terbukti dapat menekan sistem kekebalan tubuh, membuat kita lebih gampang jatuh sakit.
Strategi Mengatasinya
Agar tetap bugar di sisa hari terakhir, terapkan langkah praktis berikut:
-
Prioritaskan Kualitas Tidur: Curi waktu tidur siang selama 20-30 menit untuk memulihkan energi.
-
Hidrasi Maksimal: Atur minum air putih dengan pola 2-4-2 (2 gelas saat berbuka, 4 gelas saat malam, 2 gelas saat sahur).
-
Perbanyak Protein & Serat: Ganti takjil manis berlebihan dengan buah-buahan dan protein agar kenyang lebih lama.
-
Jangan Memforsir Diri: Ibadah tetap bisa dilakukan dengan bijak. Jika merasa kondisi fisik sangat tidak mendukung, prioritaskan pemulihan tubuh agar tetap sehat saat hari raya.
BACA JUGA:Minta THR Berujung PHK, LBH PKC PMII Banten Dampingi Korban PHK Mediasi di Disnaker
BACA JUGA:Visual Film Indonesia Disebut ‘Selevel Dunia’, Film Na Willa Bikin Warganet Penasaran
Sakit di penghujung Ramadan bukan berarti tubuh kita "gagal" berpuasa, melainkan tanda bahwa tubuh membutuhkan perhatian ekstra.
Dengan mengatur ritme ibadah yang seimbang dengan istirahat, kita bisa menuntaskan bulan Ramadan dengan kondisi kesehatan yang prima.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: kesehatan
