“Gue mulai ngerasa kita ini… tugas,” lanjutnya. “Bukan manusia. Kita ini tugas yang sedang mengerjakan tugas lain.”
Aku mengangguk pelan.
Di titik itu, batas antara realitas dan deadline sudah kabur.
*******Hari presentasi tiba.
Kami masuk kelas dengan wajah pucat, seperti peserta ujian hidup.
Satu per satu kelompok maju. Ada yang presentasinya bagus, ada yang terbata-bata, ada yang bahkan lupa nama kelompoknya sendiri.
Pak Sugandhi mendengarkan dengan serius. Sesekali mengangguk, sesekali mencatat sesuatu yang entah apa.
Saat giliranku dan Rian, kami maju dengan sisa energi terakhir.
Presentasi berjalan… entah bagaimana.
Kami tidak yakin apa yang kami katakan. Tapi kami yakin kami sudah memberikan segalanya, termasuk kewarasan.
Selesai presentasi, kami berdiri menunggu komentar.
Pak Sugandhi menatap kami.
Lama.
Sangat lama.
Lalu ia berkata, “Lumayan.”
Kami hampir menangis.
*******