Hari itu, Pak Sugandhi masuk kelas dengan aura yang berbeda. Lebih tenang. Lebih… berbahaya.
“Baik,” katanya sambil membuka laptop. “Saya lihat kalian sudah mulai terbiasa dengan ritme kelas ini.”
Kami tidak menjawab. Karena kami tahu, itu bukan pertanyaan.
“Saya ingin meningkatkan level kalian.”
Jantungku langsung berdebar.
“Maka,” lanjutnya, “kalian akan mengerjakan proyek kelompok.”
Kami sedikit lega. Kelompok. Artinya bisa berbagi penderitaan.
“Tiap kelompok terdiri dari dua orang.”
Kami mulai curiga.
“Dan setiap kelompok harus membuat paper sepanjang minimal 25 halaman, presentasi, serta video dokumenter.”
Sunyi.
Bahkan suara sendok jatuh di kantin sebelah pun terdengar jelas.
“Deadline?” tanya seseorang dengan suara gemetar.
Pak Sugandhi tersenyum.
“Minggu depan.”
********Sejak hari itu, kampus berubah.