Masih wajar. Ringkasan satu bab.
Minggu kedua, tugasnya bertambah. Dua bab.
Minggu ketiga, bukan hanya ringkasan, tapi analisis, perbandingan, plus refleksi pribadi sepanjang minimal 1500 kata.
“Ini demi kebaikan kalian,” kata Pak Sugandhi, sambil menuliskan deadline di papan tulis.
Deadline-nya… tiga hari lagi.
Kami menatap papan tulis seperti melihat tanggal kiamat.
*******Di kantin kampus, topik pembicaraan tidak pernah jauh dari dua hal: harga makanan yang naik dan tugas Pak Sugandhi yang tidak masuk akal.
“Gue rasa dia dulu ditolak cinta,” kata Dika sambil mengaduk kopi yang lebih banyak gula daripada kopinya. “Makanya sekarang balas dendam ke mahasiswa.”
“Bukan,” sahut Sari. “Gue dengar dia dulu mahasiswa teladan. Lulus cepat, IPK sempurna. Jadi dia pikir semua orang bisa kayak dia.”
Rian menggeleng pelan. “Enggak. Ini lebih dalam dari itu. Ini ideologi.”
Kami menoleh.
“Ideologi?” tanyaku.
“Iya,” katanya serius. “Dia percaya penderitaan adalah jalan menuju pencerahan. Kita ini bukan mahasiswa. Kita ini… bahan eksperimen spiritual.”
Kami diam.
Penjelasan itu, entah kenapa, justru masuk akal.
*******Puncaknya terjadi di minggu keenam.