INFORADAR.ID - Setiap 14 Juni, dunia memperingati Hari Donor Darah Sedunia sebagai bentuk apresiasi kepada para pendonor sukarela yang telah membantu menyelamatkan jutaan nyawa. Tanggal tersebut dipilih oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menghormati kelahiran Karl Landsteiner, ilmuwan penemu sistem golongan darah ABO.
Menariknya, peringatan ini juga menyoroti tren positif di kalangan Generasi Z. Di tengah berbagai stereotip yang melekat pada anak muda, Gen Z justru dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap isu sosial, kesehatan, dan kemanusiaan.
Bagi sebagian Gen Z, donor darah bukan sekadar kegiatan medis, melainkan bentuk kontribusi nyata yang memberikan rasa puas secara emosional. Meski identik dengan jarum suntik dan rasa tidak nyaman, aktivitas ini justru dianggap bermakna dan menyenangkan.
Fenomena tersebut berkaitan erat dengan perilaku altruisme, yaitu tindakan membantu orang lain secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan. Sikap ini tumbuh dari rasa empati yang tinggi terhadap kondisi dan kebutuhan orang lain.
Kecenderungan tersebut terlihat dalam berbagai kegiatan donor darah yang melibatkan anak muda. Salah satunya tercermin dalam aksi donor darah yang digelar PT JIAEC bersama PMI Kota Depok pada 2024.
BACA JUGA:Mendorong Anak Muda Naik Kelas, TakeAction Hadirkan Pelatihan Kewirausahaan Interaktif
Berdasarkan data JIAEC, dari total 260 orang yang mendaftar, sebanyak 231 pendonor berhasil mendonorkan darahnya dan mayoritas berasal dari Generasi Z. Angka tersebut menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya peduli pada isu kemanusiaan, tetapi juga siap terlibat langsung dalam aksi nyata.
Di era digital, aksi donor darah juga memiliki dimensi baru. Sebagai generasi yang tumbuh bersama media sosial, Gen Z kerap membagikan pengalaman donor darah mereka melalui platform digital.
Bagi mereka, membagikan pengalaman positif bukan sekadar mencari perhatian, melainkan cara menyebarkan kesadaran dan mengajak lebih banyak orang untuk ikut berpartisipasi. Konten seputar donor darah pun menjadi bentuk validasi sosial yang berdampak positif.
Alih-alih mengikuti tren flexing atau membuat konten kontroversial, banyak anak muda memanfaatkan media sosial untuk menebarkan manfaat. Langkah sederhana ini membantu mengubah stigma bahwa donor darah bukan aktivitas yang menakutkan.
Selain didorong rasa empati, kepuasan setelah donor darah juga dapat dijelaskan melalui fenomena psikologis bernama warm-glow effect. Istilah ini menggambarkan perasaan bahagia yang muncul setelah seseorang melakukan kebaikan.
BACA JUGA:Grand Final Kang Nong FISIP Untirta 2026 Soroti Peran Mahasiswa dalam Perubahan Sosial
BACA JUGA:Mahasiswa Biologi UIN Banten Pelajari Konservasi Pohon Langka Bersama FPLI di Tahura Carita
Saat membantu orang lain, tubuh akan melepaskan hormon endorfin yang dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres. Kesadaran bahwa satu kantong darah berpotensi menyelamatkan beberapa nyawa juga memberikan rasa bermakna dan kepuasan emosional tersendiri.