Fake Commute: Ritual “Pulang Kantor” yang Bantu Pekerja Remote Lepas dari Burnout

Fake Commute: Ritual “Pulang Kantor” yang Bantu Pekerja Remote Lepas dari Burnout

Fake Commute: Ritual “Pulang Kantor” yang Bantu Pekerja Remote Lepas dari Burnout--

INFORADAR.ID - Bekerja dari rumah memang menawarkan fleksibilitas, tetapi bagi sebagian pekerja remote, berakhirnya jam kerja tidak selalu berarti waktunya benar-benar “pulang”. Rutinitas fake commute atau perjalanan palsu kini muncul sebagai cara sederhana untuk membantu Gen Z dan pekerja jarak jauh memisahkan kehidupan profesional dari waktu pribadi.

Pandemi COVID-19 mengubah cara jutaan orang bekerja dan membuat sistem kerja jarak jauh semakin umum. Namun, fleksibilitas tersebut juga menghadirkan tantangan baru, mulai dari batas pekerjaan dan kehidupan pribadi yang semakin kabur, rasa terisolasi, hingga tekanan untuk selalu siap merespons pesan pekerjaan.

Kondisi tersebut dapat membuat pekerja merasa seolah-olah tidak pernah benar-benar meninggalkan kantor. Laptop yang tetap menyala, notifikasi pekerjaan yang masuk hingga malam, serta meja kerja yang berada di rumah membuat transisi dari mode profesional ke kehidupan pribadi menjadi semakin sulit.

Di tengah situasi itu, fake commute menjadi ritual sederhana yang dilakukan dengan meniru kebiasaan perjalanan berangkat dan pulang kantor. Alih-alih langsung berpindah dari meja kerja ke sofa, pekerja sengaja melakukan aktivitas tertentu untuk memberi tanda kepada otak bahwa hari kerja telah dimulai atau sudah berakhir.

James Preston dari Mutually Human mengatakan, kerja remote bukan sekadar memindahkan lokasi bekerja dari kantor ke rumah. Menurutnya, pekerja juga perlu membentuk kembali ritme kehidupan sehari-hari agar tetap memiliki batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

BACA JUGA:Gen Z Mulai Pilih JOMO Ketimbang FOMO, War Tiket Konser Kini Dipikirkan Matang

BACA JUGA:Gaji Baru Masuk Sudah Ludes? Ini 7 Cara Cerdas Mengatur Keuangan untuk Anak Muda

Sebelum era kerja jarak jauh, perjalanan menuju kantor secara alami memberikan waktu bagi seseorang untuk mempersiapkan diri secara mental sebelum memulai aktivitas. Sebaliknya, perjalanan pulang membantu pekerja meninggalkan urusan kantor sebelum kembali menjalani kehidupan di rumah.

Dr. Srinivas Dannaram dari Banner Thunderbird Medical Center menjelaskan bahwa perjalanan menuju kantor sebelumnya memberi seseorang waktu untuk melakukan persiapan mental. Rutinitas tersebut juga membantu otak berpindah ke mode transisi, baik dari rumah menuju kantor maupun sebaliknya.

Karena itu, pekerja remote bisa menciptakan versi perjalanan tersebut dengan cara sederhana. Misalnya, berjalan kaki selama 10 hingga 20 menit setelah menyelesaikan pekerjaan, membeli minuman di luar rumah, atau sekadar berkeliling lingkungan sebelum kembali ke rumah untuk menjalani waktu pribadi.

Ritual fake commute juga dapat dilakukan dengan aktivitas yang terasa personal, seperti mendengarkan musik, membaca buku, atau menikmati podcast. Rutinitas tersebut menjadi semacam “jembatan” agar pikiran tidak langsung berpindah dari tekanan pekerjaan ke aktivitas rumah tangga.

Langkah lain yang tak kalah penting adalah merapikan meja kerja setelah menyelesaikan pekerjaan. Membersihkan area tersebut dapat menjadi tanda visual bahwa aktivitas profesional telah selesai dan ruang di rumah kembali menjadi bagian dari kehidupan pribadi.

BACA JUGA:Mau Punya Tabungan Rp10 Juta dalam Setahun? Fresh Graduate Wajib Coba Strategi Ini

BACA JUGA:Rahasia Produktivitas: Strategi Ampuh Membagi Waktu Antara Kuliah dan Karier Profesional

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait