“Perjalanan menuju Tuhan tak punya garis akhir. Bahkan para nabi pun terus berdoa.”
Fikri mengangguk. Ia kini mengerti: spiritualitas bukan tentang pengalaman mistis yang megah, melainkan tentang kesetiaan pada ibadah kecil yang konsisten.
**********
Hari ia meninggalkan pesantren, kabut kembali turun di kaki Gunung Cikuray. Tapi kali ini, dadanya terasa hangat.
Ia berpamitan pada Abah Mahmud.
“Bah, apakah saya akan tersesat lagi nanti?”
Abah tersenyum bijak. “Tersesatlah. Agar kau tahu rasanya kembali.”
“Bagaimana jika saya lupa?”
“Allah tidak pernah lupa padamu.”
Angkot yang membawanya menjauh perlahan. Fikri memandang sawah, masjid kecil, dan anak-anak berlari dengan sarung tersampir.
Ia sadar, “kuil sang raja” yang ia cari bukan bangunan megah di puncak gunung. Ia adalah hati yang bersujud.
Dan di antara gunung-gunung Garut serta lembah Tasikmalaya, ia belajar satu hal: bahwa perjalanan paling jauh bukanlah dari kota ke pesantren, melainkan dari kepala ke hati.
Di sanalah Tuhan menunggu, bukan untuk ditemukan sebagai misteri, tetapi untuk dihidupi dalam setiap napas.
Dan Fikri pun pulang, bukan sebagai orang yang telah selesai mencari, melainkan sebagai peziarah yang kini tahu arah.