Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas

Senin 30-03-2026,14:24 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

“Karena peta itu Al-Qur’an. Dan kompasnya adalah hati yang bersih.”

“Kalau hati saya kotor?”

“Maka bersihkan. Tuhan tak pernah lelah menerima taubat.”

Fikri menunduk. Air matanya jatuh tanpa suara.

**********

Hari-hari berikutnya diisi dengan dzikir panjang, puasa sunah, dan khidmat melayani warga sekitar. Fikri membantu mengajar anak-anak mengaji, membersihkan masjid, dan menanam padi.

Suatu sore, ia bertanya pada Salman, “Kenapa melayani orang terasa lebih menenangkan daripada mengejar ambisi?”

Salman tersenyum. “Karena ambisi menempatkan dirimu di pusat. Pelayanan menempatkan Tuhan di pusat.”

“Apakah ini akhir perjalanan?”

“Tidak. Ini awal.”

**********

Di sebuah pengajian terakhir sebelum ia kembali ke kota, Kiai memanggilnya.

“Apa yang kau temukan di Garut dan Tasikmalaya?”

Fikri berpikir lama. “Saya tidak menemukan jawaban yang spektakuler. Tapi saya menemukan keheningan.”

Kiai tersenyum. “Keheningan adalah pintu. Dalam sunyi, kau akan mendengar suara yang selama ini tertutup riuh dunia.”

“Apakah saya sudah sampai?”

Kategori :