Disway Award

Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas

Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas

Ilustrasi Cerpen Ahmad Sihabudin berjudul Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas-AI-

Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta 

 

INFORADAR.ID - Langit Garut masih menyisakan kabut ketika Fikri turun dari angkot tua di pertigaan menuju pesantren kecil di kaki Gunung Cikuray. Udara dingin menggigit, tetapi hatinya lebih dingin lagi. Ia datang bukan sekadar untuk mondok, melainkan untuk mencari jawaban yang tak pernah selesai ditanyakan: mengapa hidup terasa hampa meski segalanya tampak baik-baik saja?

Ia teringat sebuah kisah tentang seorang peziarah yang mendatangi “kuil sang raja” untuk mencari kebijaksanaan. Tetapi Fikri tahu, dalam Islam tak ada kuil selain hati yang tunduk. Maka ia datang ke tanah yang orang-orang sebut sebagai “daerah santri”: Garut dan Tasikmalaya, tempat surau-surau lebih ramai daripada kafe, tempat azan menggema dari lembah ke lembah.

Pesantren itu sederhana. Dindingnya kayu, lantainya semen dingin. Di beranda, seorang kiai tua duduk dengan sorban putih dan tongkat kayu. Wajahnya teduh seperti sawah selepas panen.

“Assalamu’alaikum, Kiai.”

“Wa’alaikumussalam,” jawabnya pelan. “Apa yang kau cari sejauh ini, Nak?”

Fikri terdiam. Pertanyaan itu terlalu langsung.

“Saya ingin menemukan ketenangan.”

Kiai tersenyum. “Ketenangan bukan barang yang hilang. Ia hanya tertutup debu dunia.”

 

********

Malam pertama, selepas Isya, para santri berkumpul dalam halaqah. Lampu temaram menggantung rendah. Angin gunung menyusup dari celah-celah dinding.

“Kalian tahu,” ujar Kiai membuka pengajian, “Imam Al-Ghazali pernah berkata bahwa hati itu seperti cermin. Jika ia berkarat, ia tak lagi memantulkan cahaya Ilahi.”

Fikri mengangkat tangan. “Bagaimana membersihkannya, Kiai?”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: