Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas

Senin 30-03-2026,14:24 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

Abah melanjutkan, “Sufi besar Jalaluddin Rumi pernah berkata, ‘Apa yang kau cari, sedang mencarimu.’ Dalam Islam, pencarian itu bukan menuju tempat, tapi menuju kesadaran.”

“Bagaimana caranya sadar, Bah?”

“Dengan mati sebelum mati.”

Fikri menelan ludah. “Mati sebelum mati?”

“Mematikan ego. Nafsu ingin dipuji. Nafsu ingin diakui. Nafsu ingin memiliki.”

Angin sore menggerakkan tirai bambu. Fikri merasa seolah kalimat itu menelanjangi dirinya.

*********

Malam itu mereka bermalam di surau. Lampu dimatikan. Hanya suara serangga dan gemericik air.

Fikri tak bisa tidur. Ia keluar, duduk di tangga surau. Langit Tasikmalaya penuh bintang.

Abah Mahmud menyusulnya.

“Kenapa tak tidur?”

“Saya takut,” jawab Fikri pelan.

“Takut apa?”

“Takut jika setelah semua ini, saya tetap kosong.”

Abah duduk di sampingnya. “Kekosongan bukan musuh. Ia rahim. Dari kekosongan, lahir pengenalan.”

Fikri menoleh. “Mengapa hidup terasa seperti perjalanan panjang tanpa peta?”

Kategori :