Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas

Senin 30-03-2026,14:24 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

“Luka?” Fikri mengernyit.

“Ya. Orang yang tak pernah terluka biasanya tak pernah mencari Tuhan.”

Kata-kata itu menghantamnya pelan. Ia datang membawa luka yang tak pernah ia ceritakan: kegagalan, patah hati, dan rasa tak berarti di tengah hiruk pikuk kota.

Seorang santri lain, Salman, menyela, “Kiai, apakah Tuhan jauh sehingga kita harus mencarinya ke gunung?”

Kiai tertawa lirih. “Tuhan lebih dekat daripada urat lehermu. Tapi hatimu sering lebih jauh daripada gunung.”

***************

Beberapa hari kemudian, Fikri diajak berjalan kaki menuju sebuah kampung di lereng. Di sana ada surau tua yang sering dipakai khalwat  oleh para salik .

Tasikmalaya menyambutnya dengan hamparan hijau dan sungai jernih. Di perjalanan, Salman berbicara.

“Kenapa kau datang ke sini?”

“Aku lelah,” jawab Fikri jujur. “Aku merasa kosong.”

Salman tersenyum. “Kekosongan itu ruang. Dan ruang hanya bisa diisi oleh Yang Maha Penuh.”

Di surau tua itu, mereka bertemu seorang ajengan sepuh bernama Abah Mahmud. Janggutnya panjang, suaranya lembut namun dalam.

“Apa yang kau pahami tentang tauhid?” tanya Abah tiba-tiba kepada Fikri.

“Bahwa Allah itu satu.”

Abah menggeleng pelan. “Itu baru di lidah. Tauhid sejati adalah ketika tak ada lagi yang kau takutkan selain Dia, tak ada lagi yang kau harapkan selain Dia.”

Fikri terdiam.

Kategori :