Disway Award

Dikira Serigala, Ternyata Satwa Langka: Tragedi Binturong di Pandeglang

Dikira Serigala, Ternyata Satwa Langka: Tragedi Binturong di Pandeglang

hewan binturong--

PANDEGLANG, INFORADAR.ID - kembali menjadi sorotan. Sebuah peristiwa viral memperlihatkan seekor satwa liar yang turun ke pemukiman warga di wilayah Menes, Kabupaten PANDEGLANG, Banten.

Dalam kondisi hujan deras yang mengguyur selama beberapa hari terakhir, hewan tersebut terlihat kebingungan dan kelelahan. Warga yang panik mengira satwa itu adalah serigala—padahal kenyataannya jauh lebih serius: ia adalah binturong, satwa langka yang dilindungi.\

Ketidaktahuan berujung tragis. Alih-alih diselamatkan, binturong tersebut justru mengalami perlakuan yang tidak semestinya hingga akhirnya mati. Peristiwa ini bukan sekadar kisah viral, melainkan cermin rapuhnya literasi satwa liar di tengah masyarakat kita.

Binturong (Arctictis binturong) adalah mamalia langka yang hidu di hutan tropis dan memiliki peran penting dalam ekosistem, terutama sebagai penyebar biji. Satwa ini bukan predator berbahaya bagi manusia.

Sifatnya cenderung pemalu dan akan menghindar jika tidak diganggu. Kemunculannya di pemukiman bukan karena agresi, melainkan kehilangan habitat dan kondisi alam yang ekstrem.

Hujan deras yang mengguyur Menes dan sekitarnya selama beberapa hari diduga menjadi pemicu turunnya binturong ke wilayah warga.

Banjir, rusaknya hutan, serta menyempitnya ruang hidup satwa memaksa mereka keluar dari habitat alaminya untuk mencari tempat aman dan makanan. Dalam kondisi tertekan, satwa liar sering kali kehilangan orientasi dan mendekati manusia.

Tragedi ini harus menjadi pelajaran bersama. Satwa dilindungi tidak boleh disakiti, ditangkap, apalagi dibunuh. Undang-undang telah mengatur dengan jelas bahwa perburuan dan penganiayaan terhadap satwa dilindungi merupakan tindak pidana. Namun lebih dari sekadar hukum, yang dibutuhkan adalah kesadaran dan empati.

Ketika satwa liar masuk ke pemukiman, langkah yang benar adalah tetap menjaga jarak, tidak memprovokasi, dan segera melapor kepada pihak berwenang seperti BKSDA atau aparat desa. Edukasi menjadi kunci agar kepanikan tidak berubah menjadi tragedi.

Binturong yang mati di Pandeglang adalah alarm keras bagi kita semua. Bahwa krisis lingkungan bukan hanya soal banjir dan longsor, tetapi juga tentang makhluk hidup lain yang ikut menjadi korban. Jika hutan terus rusak dan pengetahuan publik tetap minim, maka tragedi serupa aka terus berulang.

Sudah saatnya kita belajar hidup berdampingan dengan alam.

Karena ketika satu satwa langka mati akibat ketidaktahuan, yang sebenarnya kita kehilangan bukan hanya seekor hewan—melainkan nilai kemanusiaan kita sendiri.

 

Fikri Habib Hassar Maldya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla’ul Anwar

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: