Disway Award

Universitas Mathla’ul Anwar dan Tanggung Jawab Sosial Perguruan Tinggi di Daerah Tertinggal

Universitas Mathla’ul Anwar dan Tanggung Jawab Sosial Perguruan Tinggi di Daerah Tertinggal

universitas UNMA--

INFORADAR.ID - Keberadaan Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) di Kabupaten Pandeglang, Banten, tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial wilayah Banten Selatan yang hingga kini masih bergulat dengan ketertinggalan struktural.

Data Badan Pusat Statistik secara konsisten menunjukkan bahwa wilayah ini berada pada kelompok indeks pembangunan manusia (IPM) terendah di Provinsi Banten, terutama dalam dimensi pendidikan dan daya beli.

Dalam konteks inilah, perguruan tinggi tidak cukup hadir sebagai institusi akademik semata, melainkan dituntut menjalankan tanggung jawab sosial yang nyata dan terukur. Sebagai perguruan tinggi yang lahir dari rahim organisasi keagamaan besar dan beroperasi di wilayah dengan keterbatasan akses pendidikan, UNMA memikul beban moral yang tidak ringan.

Perguruan tinggi di daerah tertinggal seharusnya menjadi agen transformasi sosial, bukan sekadar pabrik gelar yang mereproduksi ketimpangan. Tantangan utamanya bukan pada eksistensi kelembagaan, melainkan pada keberanian menjadikan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai praksis pembebasan sosial, bukan rutinitas administratif.

Dalam bidang pendidikan, persoalan mendasarnya adalah relevansi. Ketika tingkat partisipasi pendidikan tinggi di daerah tertinggal masih rendah dan angka pengangguran terdidik terus meningkat, kampus dituntut tidak hanya meluluskan mahasiswa, tetapi memastikan lulusan memiliki kapasitas kritis, keterampilan kontekstual, dan keberpihakan pada persoalan lokal.

Tanpa itu, perguruan tinggi justru berpotensi menjadi bagian dari masalah—melahirkan lulusan yang tercerabut dari realitas sosialnya sendiri. Pada aspek penelitian, problem klasik perguruan tinggi daerah kembali mengemuka.

Minimnya riset yang berorientasi pada penyelesaian persoalan masyarakat sekitar membuat kampus kerap terasing dari lingkungannya.

Padahal, Pandeglang menyimpan persoalan nyata yang mendesak: kemiskinan struktural, ketimpangan akses pendidikan desa–kota, ketahanan pangan, hingga mitigasi bencana di wilayah pesisir. Ketika riset lebih sibuk mengejar kepentingan administratif dan publikasi semata, maka fungsi keilmuan kehilangan makna sosialnya.

Sementara itu, pengabdian kepada masyarakat masih sering terjebak dalam pola seremonial dan jangka pendek. Program pengabdian yang tidak berkelanjutan hanya akan melahirkan kesan kehadiran semu.

Bagi UNMA, pengabdian seharusnya diarahkan pada pemberdayaan jangka panjang, seperti pendampingan UMKM lokal, penguatan ekonomi pesantren, literasi pendidikan desa, serta peningkatan kapasitas pemuda.

Tanpa desain yang sistematis dan berkelanjutan, pengabdian hanya menjadi formalitas Tri Dharma. Di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin liberal dan berorientasi pasar, UNMA memang berada pada posisi dilematis: antara menjaga keberlangsungan institusi dan mempertahankan idealisme sosial. 

Namun justru di titik inilah identitas moral perguruan tinggi diuji. Kampus di daerah tertinggal tidak boleh sepenuhnya tunduk pada logika komersialisasi pendidikan, sebab masyarakat sekitarnya menggantungkan harapan pada fungsi sosial perguruan tinggi.

Universitas Mathla’ul Anwar memiliki modal historis, kultural, dan ideologis untuk memainkan peran strategis tersebut.

Dibutuhkan kini bukan sekadar penyesuaian teknis, melainkan keberanian politik akademik: melakukan evaluasi internal, membenahi tata kelola, serta secara sadar memihak kepentingan masyarakat tertinggal.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: