Ketika Hujan Mengingatkan Dunia
Ilustrasi Cerpen Ahmad Sihabudin berjudul Ketika Hujan Mengingatkan Dunia-Ilustrasi by AI-
Amran tersenyum.
Ya, ada dunia di setiap genangan. dunia kecil yang rapuh, tapi indah.
Ia berjongkok, menyentuh permukaan air. Riak kecil menyebar, merusak pantulan awan.
Begitulah manusia, pikirnya. Satu sentuhan, dan keseimbangan berubah.
“Ayah,” Cikal berkata lagi, “kalau kita jaga pohon-pohon ini, hujan nggak akan marah kan?”
Amran mengusap kepala anaknya.
“Hujan tidak pernah benar-benar marah. Ia hanya datang ketika waktunya tiba. Tapi kalau kita menjaga bumi, hujan akan menjadi berkah, bukan bencana.”
Cikal mengangguk, seolah menyimpan kalimat itu sebagai rahasia kecil.
**********
Malam itu, radio tua kembali menyala. Lagu yang sama diputar ulang. Tentang hujan yang jatuh dan masa depan yang dipertanyakan. Tentang dunia yang membutuhkan tangan-tangan yang peduli.
Amran berdiri di jendela.
Langit kini cerah. Bintang-bintang muncul satu per satu, seperti harapan yang enggan padam.
Ia tahu ia bukan ilmuwan besar. Bukan aktivis yang turun ke jalan membawa spanduk. Ia hanya guru. Ayah. Warga biasa.
Tapi mungkin perubahan memang dimulai dari hal kecil.
Dari cara ia mengajar. Dari cara ia menjawab pertanyaan Cikal. Dari keputusan untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan. Dari keberanian menanam satu pohon, lalu dua.
Hujan mungkin akan turun lagi esok hari.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: