Ketika Hujan Mengingatkan Dunia

Ketika Hujan Mengingatkan Dunia

Ilustrasi Cerpen Ahmad Sihabudin berjudul Ketika Hujan Mengingatkan Dunia-Ilustrasi by AI-

Beberapa tangan terangkat. Jawaban-jawaban ilmiah mengalir: permukaan laut naik, cuaca ekstrem, spesies punah.

Ia mengangguk.

“Tapi,” lanjutnya, “yang lebih penting adalah, kenapa itu terjadi?”

Kelas hening.

Di luar jendela, hujan kembali turun tipis.

“Karena kita lupa,” katanya pelan. “Kita lupa bahwa bumi bukan mesin. Ia hidup. Ia punya batas.”

Seorang murid perempuan mengangkat tangan. “Pak, apa kita masih bisa memperbaikinya?”

Pertanyaan itu sama seperti pertanyaan Cikal semalam. Sederhana, tapi mengguncang.

Amran menatap wajah-wajah muda di hadapannya. Mata mereka masih menyimpan kemungkinan. Belum sepenuhnya tercemar oleh kompromi.

“Bisa,” jawabnya. “Selama kita belum menyerah.”

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa kata itu bukan sekadar penghiburan.

*********

Sore itu hujan berhenti.

Langit menyisakan semburat cahaya di ufuk barat. Udara terasa lebih bersih, seperti dunia baru saja menangis dan kini sedikit lega.

Amran mengajak Cikal berjalan ke taman kecil di ujung jalan. Tanah masih basah. Daun-daun berkilau.

“Ayah,” kata Cikal sambil menunjuk genangan air yang memantulkan langit, “lihat, ada dunia di bawah sana.”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: