Disway Award

Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas

Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas

Ilustrasi Cerpen Ahmad Sihabudin berjudul Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas-AI-

“Apa yang kau temukan di Garut dan Tasikmalaya?”

Fikri berpikir lama. “Saya tidak menemukan jawaban yang spektakuler. Tapi saya menemukan keheningan.”

Kiai tersenyum. “Keheningan adalah pintu. Dalam sunyi, kau akan mendengar suara yang selama ini tertutup riuh dunia.”

“Apakah saya sudah sampai?”

“Perjalanan menuju Tuhan tak punya garis akhir. Bahkan para nabi pun terus berdoa.”

Fikri mengangguk. Ia kini mengerti: spiritualitas bukan tentang pengalaman mistis yang megah, melainkan tentang kesetiaan pada ibadah kecil yang konsisten.

**********

Hari ia meninggalkan pesantren, kabut kembali turun di kaki Gunung Cikuray. Tapi kali ini, dadanya terasa hangat.

Ia berpamitan pada Abah Mahmud.

“Bah, apakah saya akan tersesat lagi nanti?”

Abah tersenyum bijak. “Tersesatlah. Agar kau tahu rasanya kembali.”

“Bagaimana jika saya lupa?”

“Allah tidak pernah lupa padamu.”

Angkot yang membawanya menjauh perlahan. Fikri memandang sawah, masjid kecil, dan anak-anak berlari dengan sarung tersampir.

Ia sadar, “kuil sang raja” yang ia cari bukan bangunan megah di puncak gunung. Ia adalah hati yang bersujud.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: