Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas
Ilustrasi Cerpen Ahmad Sihabudin berjudul Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas-AI-
Abah menggeleng pelan. “Itu baru di lidah. Tauhid sejati adalah ketika tak ada lagi yang kau takutkan selain Dia, tak ada lagi yang kau harapkan selain Dia.”
Fikri terdiam.
Abah melanjutkan, “Sufi besar Jalaluddin Rumi pernah berkata, ‘Apa yang kau cari, sedang mencarimu.’ Dalam Islam, pencarian itu bukan menuju tempat, tapi menuju kesadaran.”
“Bagaimana caranya sadar, Bah?”
“Dengan mati sebelum mati.”
Fikri menelan ludah. “Mati sebelum mati?”
“Mematikan ego. Nafsu ingin dipuji. Nafsu ingin diakui. Nafsu ingin memiliki.”
Angin sore menggerakkan tirai bambu. Fikri merasa seolah kalimat itu menelanjangi dirinya.
*********
Malam itu mereka bermalam di surau. Lampu dimatikan. Hanya suara serangga dan gemericik air.
Fikri tak bisa tidur. Ia keluar, duduk di tangga surau. Langit Tasikmalaya penuh bintang.
Abah Mahmud menyusulnya.
“Kenapa tak tidur?”
“Saya takut,” jawab Fikri pelan.
“Takut apa?”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
