Disway Award

Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas

Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas

Ilustrasi Cerpen Ahmad Sihabudin berjudul Menjemput Tuhan di Antara Gunung dan Nafas-AI-

“Takut jika setelah semua ini, saya tetap kosong.”

Abah duduk di sampingnya. “Kekosongan bukan musuh. Ia rahim. Dari kekosongan, lahir pengenalan.”

Fikri menoleh. “Mengapa hidup terasa seperti perjalanan panjang tanpa peta?”

“Karena peta itu Al-Qur’an. Dan kompasnya adalah hati yang bersih.”

“Kalau hati saya kotor?”

“Maka bersihkan. Tuhan tak pernah lelah menerima taubat.”

Fikri menunduk. Air matanya jatuh tanpa suara.

**********

Hari-hari berikutnya diisi dengan dzikir panjang, puasa sunah, dan khidmat melayani warga sekitar. Fikri membantu mengajar anak-anak mengaji, membersihkan masjid, dan menanam padi.

Suatu sore, ia bertanya pada Salman, “Kenapa melayani orang terasa lebih menenangkan daripada mengejar ambisi?”

Salman tersenyum. “Karena ambisi menempatkan dirimu di pusat. Pelayanan menempatkan Tuhan di pusat.”

“Apakah ini akhir perjalanan?”

“Tidak. Ini awal.”

**********

Di sebuah pengajian terakhir sebelum ia kembali ke kota, Kiai memanggilnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: