Sailing: Sebagai Metafora Pulang ”Mudik” dan Iman dalam Jiwa Nusantara
Lagu “Sailing” yang digubah oleh Gavin Sutherland bersama kelompoknya, Sutherland Brothers (1972)-Ilustrasi by AI-
Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta
INFORADAR.ID - Lagu “Sailing” yang digubah oleh Gavin Sutherland bersama kelompoknya, Sutherland Brothers (1972), dan kemudian dipopulerkan secara global oleh Rod Stewart (1975), bukan sekadar balada folk-rock tentang perjalanan laut.
Ia adalah teks simbolik tentang pulang, sebuah perjalanan eksistensial yang melintasi badai kehidupan demi mencapai “rumah” sebagai ruang cinta dan keutuhan diri.
Dalam hermeneutik, lagu ini dapat dibaca bukan hanya sebagai narasi individual, melainkan sebagai wacana simbolik tentang kondisi manusia: makhluk yang selalu berada dalam perjalanan, selalu “menyeberang”, selalu dalam proses menjadi.
Hermeneutika Perjalanan: Laut sebagai Ruang Ujian
Lirik pembuka: “I am sailing, I am sailing, stormy waters…” menghadirkan citra laut sebagai medan cobaan. Dalam pembacaan hermeneutik, laut bukan hanya ruang geografis, melainkan simbol ketidakpastian hidup. Air yang bergelombang merepresentasikan dunia yang cair, tak stabil, dan penuh risiko.
Dalam tradisi hermeneutika, khususnya pendekatan eksistensial, perjalanan selalu memuat makna transformasi. Manusia bukanlah makhluk statis; ia adalah being-in-journey. Laut adalah dunia; badai adalah krisis; dan pelayaran adalah usaha manusia mempertahankan harapan.
Jika kita tarik pada konteks Indonesia, sebuah bangsa maritim laut bukan sekadar metafora, tetapi realitas kultural. Sejak era pelaut Nusantara, dari Bugis-Makassar hingga pelayaran Jawa kuno, laut adalah ruang keberanian sekaligus ruang doa. Pelayaran selalu dimulai dengan restu, dengan doa keselamatan, dengan kesadaran bahwa badai adalah bagian dari takdir.
Dengan demikian, Sailing berbicara sangat dekat dengan kosmologi Indonesia: hidup adalah penyeberangan, dan manusia adalah pengelana yang memohon perlindungan ilahi di tengah ombak.
Pulang sebagai Horizon Makna
Dalam lagu ini, tujuan pelayaran adalah “to be near you, to be free.” Pulang bukan sekadar kembali ke lokasi fisik, tetapi kembali kepada relasi. Rumah adalah perjumpaan; rumah adalah orang yang dicintai.
Dalam budaya Indonesia, konsep pulang memiliki makna sakral. “Mudik” misalnya, bukan hanya tradisi sosial, tetapi ritus emosional. Setiap Lebaran, jutaan orang bergerak kembali ke kampung halaman, sebuah perjalanan fisik yang sarat dimensi spiritual. Pulang berarti kembali pada asal-usul, pada ibu, pada tanah, pada identitas.
Secara hermeneutik, pulang adalah simbol rekonsiliasi: antara diri dan masa lalu, antara individu dan komunitas, antara manusia dan Tuhan. Dalam banyak kebudayaan lokal Indonesia, perjalanan jauh sering ditutup dengan syukuran atau selamatan sebagai tanda selamat kembali ke pangkuan asal.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
