Media Sosial Bisa Jadi Ruang Damai, Bukan Arena Konflik

Media Sosial Bisa Jadi Ruang Damai, Bukan Arena Konflik

media online-unsplash-

INFORADAR.ID- Di era digital seperti sekarang, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Hampir setiap orang menggunakan platform seperti Instagram, TikTok, X, Facebook, hingga YouTube untuk mencari informasi, hiburan, bahkan berinteraksi dengan orang lain.

Kehadiran media sosial memang memberikan banyak manfaat karena mampu mempercepat penyebaran informasi dan memperluas hubungan sosial tanpa batas ruang dan waktu.

Namun, di balik kemudahan tersebut, media sosial juga sering menjadi tempat munculnya konflik, terutama yang berkaitan dengan perbedaan agama, budaya, maupun pandangan sosial.

Fenomena saling menghina di kolom komentar, penyebaran hoaks, hingga ujaran kebencian kini semakin mudah ditemukan di ruang digital.

BACA JUGA:Xiaomi 17T Resmi Meluncur di Indonesia, Usung Kamera Leica dan Baterai 6.500 mAh Mulai Rp8,9 Juta

BACA JUGA:Google Try On Resmi Hadir di Indonesia, Belanja Online Kini Bisa Coba Pakaian Secara Virtual dengan AI

Banyak orang dengan cepat memberikan penilaian terhadap kelompok lain tanpa benar-benar memahami latar belakang budaya atau keyakinannya.

Akibatnya, media sosial yang seharusnya menjadi sarana komunikasi justru berubah menjadi arena pertikaian yang memicu perpecahan di masyarakat.

Dalam memahami fenomena ini, teori Anxiety/Uncertainty Management (AUM) dari William B.

Gudykunst dapat menjadi salah satu penjelasan yang relevan. Teori ini menjelaskan bahwa konflik sering muncul karena adanya rasa cemas dan ketidakpastian ketika seseorang berhadapan dengan individu atau kelompok yang berbeda.

BACA JUGA:Suzuki Merilis Burgman 15, Lawan Sepadan Nmax dan PCX

BACA JUGA:Artisan AI Rilis Kampanye

Ketika manusia tidak memahami budaya, cara berpikir, atau nilai yang dimiliki orang lain, maka prasangka dan rasa curiga akan lebih mudah tumbuh.

Kondisi tersebut semakin diperparah di media sosial karena informasi dapat tersebar dengan sangat cepat tanpa proses verifikasi yang matang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: