Lagu Cabul di Kampus Jadi Ironi, Kata Kehilangan Nurani
Ahmad Sihabuddin-Istimewa-
Oleh: Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta
INFORADAR.ID - Ada ironi yang terlalu telanjang untuk ditutupi dengan permintaan maaf administratif: kampus, yang selama ini gemar mengajarkan etika, logika, dan kemanusiaan, ternyata bisa begitu fasih melantunkan lirik yang merendahkan manusia. Lebih ironis lagi, itu dilakukan bukan oleh “orang luar,” melainkan oleh mereka yang sedang dididik menjadi penjaga masa depan bangsa.
Lagu “Erika” dalam konteks ini bukan sekadar Lagu. Ia adalah teks. Dan seperti semua teks, ia menyimpan niat, kesadaran, bahkan, kalau perlu kita sedikit sinis, ketidaksadaran kolektif.
Jika kita meminjam kacamata Hans-Georg Gadamer, maka pemahaman atas lirik ini tidak bisa dilepaskan dari horizon zamannya. Tapi masalahnya bukan pada masa lalu. Masalahnya adalah: mengapa sesuatu yang “usang secara moral” masih bisa dinyanyikan dengan penuh percaya diri di masa kini? Ini bukan sekadar warisan, ini lebih mirip pembiaran yang dirawat.
Mari kita masuk ke potongan lirik yang problematik (disederhanakan secara esensial):
“Perempuan itu dijadikan objek hiburan, tubuhnya jadi bahan lelucon, dan relasi yang dibangun adalah dominasi, bukan penghormatan.”
Di titik ini, kita tidak sedang berhadapan dengan humor. Kita sedang berhadapan dengan struktur makna. Michel Foucault akan dengan santai mengatakan: ini bukan sekadar kata-kata, ini adalah praktik kekuasaan. Bahasa di sini bekerja seperti pisau halus, tidak terasa, tapi mengiris cara pandang.
Lirik semacam ini tidak berdiri sendiri. Ia mengandaikan bahwa perempuan adalah “yang bisa ditertawakan,” “yang bisa diremehkan,” dan lebih parah lagi, “yang boleh dijadikan objek tanpa konsekuensi.” Ketika dinyanyikan beramai-ramai, ia berubah dari sekadar teks menjadi ritual. Dari sekadar kata menjadi norma.
Dan kampus, yang seharusnya menjadi ruang kritik, justru berubah menjadi panggung reproduksi banalitas.
Di sinilah Theodor W. Adorno mungkin akan tersenyum pahit. Ia pernah mengkritik bagaimana budaya populer membuat manusia kehilangan daya kritis. Tapi dalam kasus ini, bahkan bukan industri budaya yang patut disalahkan, melainkan “intelektual muda” yang tampaknya terlalu sibuk bernyanyi untuk sempat berpikir.
Lebih tajam lagi, jika kita gunakan pendekatan Paul Ricoeur dengan “hermeneutika kecurigaan,” kita patut bertanya: kenapa yang dijadikan bahan lelucon hampir selalu tubuh perempuan? Kenapa bukan kekuasaan? Kenapa bukan ketidakadilan struktural? Jawabannya tidak nyaman: karena yang lemah selalu lebih mudah ditertawakan daripada yang berkuasa.
Dalam perspektif sufistik, ini bahkan lebih telanjang lagi. Jalaluddin Rumi pernah mengingatkan bahwa kata-kata adalah cermin jiwa. Maka jika yang keluar adalah pelecehan yang dibungkus tawa, kita tidak sedang melihat kecerdasan, kita sedang melihat kegersangan batin yang dipoles menjadi hiburan.
Lebih keras lagi, Al-Ghazali menyebut lisan sebagai salah satu sumber kehancuran moral manusia. Bukan karena ia besar, tetapi karena ia ringan digunakan tanpa kesadaran. Lirik semacam ini adalah contoh klasik: dosa yang dinyanyikan agar terasa seperti tidak berdosa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
