Disway Award

Suite Madame Blue: Amerika dan Standar Ganda

Suite Madame Blue: Amerika dan Standar Ganda

Ilustrasi artikel Ahmad Sihabudin-Ilustrasi by AI-

oleh Ahmad Sihabudin  

 

INFORADAR.ID - Lagu Suite Madame Blue dari Styx, yang ditulis oleh Dennis DeYoung, bukan sekadar balada rock progresif, ia adalah elegi yang lirih sekaligus sindiran tajam terhadap sebuah bangsa yang pernah merasa dirinya abadi. 

Dalam metafora “Madame Blue,” Amerika Serikat hadir sebagai sosok perempuan yang pernah memesona, namun kini harus berhadapan dengan kerutan sejarah, kelelahan moral, dan cermin yang tak lagi ramah.

Jika pada 1975 lagu ini dibaca sebagai kritik menjelang perayaan 200 tahun Amerika, maka dalam konteks hari ini, terutama di bawah kepemimpinan Donald Trump, “Madame Blue” seolah menemukan gema barunya yang lebih getir.

Nostalgia yang Menjadi Beban

“Time after time, I sit and I wait for your call...”

Baris ini dahulu dapat dimaknai sebagai kesetiaan pada idealisme Amerika: demokrasi, kebebasan, dan keadilan. Namun hari ini, kesetiaan itu terasa seperti penantian yang melelahkan. 

Dunia, dan bahkan warga Amerika sendiri, menunggu “panggilan” moral dari negara yang dulu mengklaim dirinya sebagai mercusuar demokrasi.

Di era Trump, nostalgia terhadap “Make America Great Again” bukan sekadar slogan, tetapi semacam usaha memanggil kembali masa lalu yang mungkin tak pernah benar-benar ada. 

Seperti Madame Blue yang diminta bercermin, Amerika justru lebih sering memilih menatap potret lamanya daripada menghadapi wajahnya kini.

Cermin yang Retak 

“Suite Madame Blue, gaze in your looking glass...”

Cermin dalam lagu ini adalah simbol refleksi, dan mungkin juga penghakiman. Dalam konteks kekinian, cermin itu memperlihatkan kontradiksi: Amerika yang menggaungkan demokrasi, tetapi kerap terjebak dalam praktik standar ganda di panggung global.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: